Ancaman Blokade Selat Bab el-Mandeb: Iran Buka Front Baru Lawan AS
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi Yaman, yang didukung Iran, mendeklarasikan blokade terhadap lalu lintas kapal Saudi di Selat Bab el-Mandeb, mengancam jalur perdagangan global.
- Jika selat ini dan Selat Hormuz ditutup, dunia berpotensi mengalami krisis minyak dan ekonomi karena Suez Canal yang terhubung ke Bab el-Mandeb mengangkut 12-15% perdagangan global.
- Para analis menyarankan pengawalan konvoi kapal oleh koalisi internasional, dengan Eropa memimpin, serta opsi serangan darat jika blokade berlanjut.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah ke jalur laut paling vital di selatan Laut Merah. Kelompok Houthi Yaman, proksi utama Teheran, secara resmi memblokade lalu lintas kapal Saudi di Selat Bab el-Mandeb—sebuah langkah yang menurut mantan Panglima Tertinggi NATO, James Stavridis, dapat memperluas perang melawan AS melampaui Teluk Persia.
Selat Bab el-Mandeb, yang membentang sepanjang 31 mil dan lebar 16 mil antara Yaman dan Tanduk Afrika, merupakan titik tersumbat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Nama "Bab el-Mandeb" sendiri berarti "Gerbang Air Mata", merujuk pada tantangan navigasi yang berbahaya. Namun, kepentingannya jauh melampaui geografi: selat ini menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez, yang menangani 12-15 persen perdagangan global, 30 persen lalu lintas kontainer, dan lebih dari US$1 triliun barang setiap tahunnya. Sekitar 10 persen minyak yang diangkut melalui laut juga melewati rute ini. Alternatifnya, memutar Tanjung Harapan di Afrika, memakan waktu dan biaya jauh lebih besar.
Iran telah memberikan cetak biru bagaimana menutup jalur strategis meskipun menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Dengan kombinasi serangan perahu kecil, drone, rudal balistik jarak pendek, dan ranjau, Teheran berhasil membuat banyak pemilik kapal enggan mengambil risiko terhadap awak, kargo, dan biaya asuransi. Kini, Houthi—yang sejak 2023 terbukti mampu menyerang, menangkap, dan menenggelamkan kapal dagang—menerapkan taktik serupa di Bab el-Mandeb. Mereka memiliki drone, rudal balistik jarak pendek, dan kemampuan memasang ranjau serta mengerahkan gerombolan perahu kecil yang dipasok Iran.
Konteks Indonesia: Sebagai negara kepulauan dengan lalu lintas perdagangan maritim yang padat, Indonesia sangat rentan terhadap gangguan di jalur pelayaran global. Gangguan di Bab el-Mandeb dan Suez akan memperpanjang waktu tempuh dan meningkatkan biaya logistik, terutama untuk impor minyak dan gas serta ekspor komoditas. Kenaikan biaya angkut dapat memicu inflasi dan menekan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Pemerintah perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari konflik ini terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Menurut Stavridis, yang pernah memimpin operasi anti-pembajakan di perairan yang sama, pendekatan terbaik adalah menginternasionalkan pasukan pertahanan. Langkah awal bisa berupa pengawalan konvoi kapal dagang (3-5 kapal per konvoi) oleh fregat atau destroyer rudal. Eropa, yang sukses dalam operasi anti-pembajakan Somalia, dapat memimpin koordinasi melalui NATO atau Uni Eropa. Basis di Djibouti, termasuk fasilitas militer Prancis dan pangkalan angkatan laut AS di Camp Lemonnier, siap mendukung. Secara diplomatis, negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, dan Arab Saudi dapat dilibatkan untuk berpatroli di utara selat, sementara pasukan Barat mengawal konvoi di selatan.
Jika langkah-langkah tersebut gagal, AS mungkin perlu melanjutkan serangan darat di Yaman yang sempat dihentikan setelah gencatan senjata rapuh pada Mei 2025. Target prioritas meliputi jalur logistik Houthi ke Iran, fasilitas perawatan dan produksi drone, tempat penyimpanan rudal balistik, serta pusat komando dan kendali. Namun, serangan semacam itu berisiko memperluas konflik dan memicu eskalasi lebih lanjut.
Penutupan Bab el-Mandeb oleh Houthi bukan hanya ancaman bagi pelayaran global, tetapi juga strategi Iran untuk membuka front kedua melawan AS di luar Teluk Persia. Pertanyaannya, apakah komunitas internasional mampu belajar dari pengalaman masa lalu dan menyusun rencana kontinjensi yang efektif sebelum terlambat?



