Klarifikasi Damkar Surabaya: Api di TPA Benowo Bukan dari Flare Suporter
Baca dalam 60 detik
- Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya membantah dugaan bahwa kebakaran TPA Benowo dipicu oleh flare suporter sepak bola, menyebut laporan awal dari Command Center keliru.
- Jarak antara Stadion Gelora Bung Tomo dan TPA Benowo yang cukup jauh menjadi alasan utama pernyataan tersebut diralat.
- Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, sementara api telah padam dan aktivitas di TPA kembali normal.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya secara resmi meralat informasi awal yang menyebutkan bahwa kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo pada Minggu (19/7) malam dipicu oleh flare atau suar yang biasa digunakan suporter sepak bola. Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini, mengakui terjadi kesalahan data dari laporan Command Center yang sempat beredar.
"Bukan flare, kita belum tahu. Itu teman-teman dari Command Center," ujar Rini saat dikonfirmasi, Senin (20/7). Ia menambahkan bahwa jarak antara Stadion Gelora Bung Tomo (GBT)โtempat berlangsungnya laga Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarangโdengan TPA Benowo cukup jauh, sehingga kecil kemungkinan api berasal dari suar. "Makanya saya juga bingung, masak flare, tempatnya jauh," katanya.
Hingga saat ini, DPKP masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Informasi awal menunjukkan titik api muncul kecil, lalu membesar setelah ditiup angin kencang. "Memang awalnya kecil, anginnya sangat besar cepat merambat. Untuk memastikan terkait flare saya belum tahu, pastinya kita belum tahu juga," jelas Rini.
Kebakaran terdeteksi sekitar pukul 18.49 WIB dan meludeskan tumpukan sampah di Blok 1B seluas sekitar 900 meter persegi. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Operasi pemadaman melibatkan delapan unit mobil pemadam dari berbagai pos, serta bantuan 15 unit tangki air dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya dan tujuh alat berat. Api pokok berhasil dipadamkan pukul 21.05 WIB, dan proses pembasahan tuntas pada pukul 23.58 WIB.
TPA Benowo yang berlokasi di Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Pakal, merupakan tempat pembuangan akhir terbesar di Surabaya. Beroperasi sejak 2001, kawasan ini juga dikenal memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang diresmikan pada 2021โmenjadi yang pertama dan terbesar di Indonesia. Kebakaran sempat mengganggu operasional, namun berdasarkan pantauan Senin (20/7) aktivitas truk sampah sudah berjalan normal kembali.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya akurasi data dalam penanganan bencana. Kesalahan informasi awal yang mengaitkan api dengan flare suporter sempat memicu spekulasi di media sosial. DPKP berjanji akan memperbaiki sistem pelaporan Command Center agar kejadian serupa tidak terulang. Pertanyaan yang masih mengemuka: apa sebenarnya pemicu api di gunungan sampah tersebut, dan apakah faktor kelalaian atau kondisi alam yang dominan?



