Eropa Terbakar: Tiga Petugas Pemadam Tewas, Ribuan Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem memicu kebakaran hutan di Italia, Prancis, dan Spanyol, menewaskan tiga petugas pemadam kebakaran.
- Luas area terbakar di Uni Eropa pada musim panas 2026 sudah menjadi yang terbesar kedua dalam dua dekade terakhir.
- Perubahan iklim memperparah kekeringan di Eropa, meningkatkan frekuensi dan intensitas kebakaran.

Gelombang panas yang menyengat kawasan Eropa selatan pada pekan ini telah merenggut nyawa tiga petugas pemadam kebakaran dan memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka akibat kobaran api yang meluas di Italia, Prancis, dan Spanyol.
Suhu yang melampaui 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah, ditambah angin kencang, membuat api sulit dikendalikan. Di Italia, sekitar 6.000 personel gabungan dari pemadam kebakaran, penjaga hutan, dan perlindungan sipil dikerahkan untuk memadamkan puluhan titik api di Pulau Sisilia yang telah berkobar selama beberapa hari. Seorang petugas pemadam meninggal setelah jatuh sakit saat bertugas, demikian diumumkan Menteri Dalam Negeri Italia. Sementara itu, lebih dari 160 kebakaran tercatat di wilayah Calabria, dengan dugaan aksi pembakaran yang melibatkan kucing liar sebagai alat penyebar api—sebuah metode yang disebut oleh kepala perlindungan sipil setempat sebagai tindakan kriminal.
Di Prancis, lebih dari 10.000 wisatawan dievakuasi dari perkemahan dan akomodasi liburan di dekat Bordeaux pada Kamis (23/7) ketika api melalap hutan pinus pesisir di Le Porge. Kebakaran yang dipicu oleh mesin pembersih semak ini telah menghanguskan 2.400 hektare lahan—setara dua kali luas Bandara Heathrow London—sejak Rabu. Dua petugas pemadam tewas pada Selasa saat memadamkan api di dekat bandara Bordeaux. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menemui keluarga korban, sementara serikat pekerja memperingatkan kelelahan dan kekurangan sumber daya di kalangan petugas.
Di Spanyol, kebakaran besar di selatan Madrid mulai terkendali, memungkinkan sebagian besar warga kembali ke rumah. Namun, ratusan petugas masih berjuang melawan api di provinsi Guadalajara yang telah membakar sekitar 32.000 hektare sejak pekan lalu. Kepala perlindungan sipil Virginia Barcones menyatakan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama yang menghancurkan desa dan warisan alam, serta memperingatkan bahwa beberapa api begitu dahsyat sehingga petugas tidak berdaya meski dengan pesawat pemadam.
Kebakaran hutan yang melanda Eropa selatan ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim, yang juga dirasakan di Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki karakteristik geografis berbeda, musim kemarau yang lebih panjang dan risiko kebakaran lahan gambut meningkat seiring suhu global yang naik. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata di Indonesia sebesar 0,03 derajat Celsius per tahun, yang berpotensi memperparah kekeringan dan kebakaran hutan di masa depan. Pengalaman Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan dapat menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara Eropa yang kini menghadapi situasi serupa.
Para ahli dari World Weather Attribution, dalam studi yang dirilis Kamis, menegaskan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat kekeringan di Eropa semakin parah, sehingga api lebih cepat menyebar. Hal ini sejalan dengan prediksi bahwa gelombang panas ekstrem akan semakin sering terjadi. Di Spanyol, suhu diperkirakan akan mereda akhir pekan ini, namun ancaman kebakaran masih tinggi karena angin kencang dan panas ekstrem diperkirakan kembali melanda.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah negara-negara Eropa beradaptasi dengan cepat terhadap realitas iklim baru ini, atau akankah musim panas seperti ini menjadi langganan tahunan yang semakin mematikan?



