PayPal, Dulu Primadona Wall Street, Kini Incaran Akuisisi Miliaran Dolar
Baca dalam 60 detik
- PayPal menerima tawaran akuisisi senilai US$53 miliar dari Stripe dan Advent International, namun dewan direksi menilai harga US$60,50 per saham terlalu rendah.
- Kinerja saham PayPal merosot drastis dari puncak kapitalisasi US$360 miliar pada 2021, tergerus oleh dominasi Apple Pay dan lambannya inovasi di era pembayaran mobile.
- Kesepakatan ini berpotensi memecah ekosistem PayPal, termasuk Venmo, dan membuka peluang bagi investor Indonesia untuk mencermati strategi ekspansi perusahaan fintech global.

PayPal, perusahaan yang lima tahun lalu masih menjadi primadona di Wall Street dan pemimpin pasar pembayaran digital, kini berada di persimpangan jalan. Setelah nilai sahamnya ambruk dan persaingan kian ketat, PayPal menerima tawaran akuisisi senilai US$53 miliar dari rivalnya, Stripe, bersama perusahaan investasi Advent International. Namun, dewan direksi PayPal menilai harga yang ditawarkan—US$60,50 per saham—belum cukup untuk membuka negosiasi serius.
Perusahaan yang berbasis di San Jose, California, ini pernah mencapai puncak kejayaan pada 2021 dengan kapitalisasi pasar hingga US$360 miliar. Namun, sejak saat itu pertumbuhan melambat, sementara pesaing seperti Apple Pay, Google Pay, dan Samsung Pay terus menggerus pangsa pasarnya. Data dari PYMNTS Intelligence menunjukkan bahwa tahun lalu pangsa pasar Apple Pay di AS sudah melampaui PayPal hingga 10 poin persentase. Analis menilai PayPal terlambat merespons tren pembayaran mobile dan digital banking.
“Mengapa repot-repot menjadi bank digital jika Anda bisa menjadi tombol checkout terbesar di dunia?” ujar Dan Dolev, analis senior di Mizuho. “Saya pikir terlalu mudah bagi PayPal untuk menikmati madu langsung dari toples checkout.” Kritik ini menggambarkan stagnasi inovasi di tubuh PayPal, yang gagal memanfaatkan momentum adopsi AI dan agentic commerce—di mana agen AI menegosiasikan dan menyelesaikan pembelian atas nama pengguna.
Kegagalan PayPal dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan juga terlihat dari kinerja produk-produk barunya. Owen Lau, analis dari Clear Street, menilai PayPal terlalu fokus merebut pangsa pasar dengan harga agresif tanpa mempertimbangkan profitabilitas. “Mereka tidak mematok harga yang tepat, dan kehilangan momentum di bagian bisnis lain,” katanya. Venmo, layanan peer-to-peer yang sempat menjadi andalan, kini pertumbuhannya melambat, sementara produk buy now, pay later belum memberikan hasil signifikan. Basis pengguna PayPal pun cenderung stagnan.
Di sisi internal, pergantian CEO yang cepat—tiga orang dalam empat tahun—menambah ketidakpastian. Pada Maret lalu, Enrique Lores resmi menjabat sebagai CEO baru, menggantikan Alex Chriss yang hanya bertahan beberapa bulan. Sebelumnya, dewan direksi dan tim eksekutif sempat berselisih terkait rencana kerja sama dengan OpenAI untuk mengintegrasikan dompet digital PayPal ke ChatGPT. Konflik tersebut berujung pada hengkangnya Chriss.
Meskipun tawaran dari Stripe dan Advent dinilai terlalu rendah, analis Wall Street meyakini kedua pihak mampu menaikkan harga. Mereka telah mengumpulkan dana ekuitas sebesar US$17 miliar dan memperoleh pendanaan bank senilai US$50 miliar. Keputusan untuk menaikkan tawaran kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh laporan keuangan kuartalan PayPal yang akan dirilis bulan ini. Jika kinerja buruk, tekanan pada PayPal akan semakin besar; sebaliknya, hasil positif bisa mendorong tawaran yang lebih tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Ekosistem pembayaran digital di Tanah Air juga sedang bergerak cepat, dengan pemain lokal seperti GoPay, OVO, dan DANA yang terus berinovasi. Jika PayPal akhirnya diakuisisi dan dipecah, aset seperti Venmo bisa menjadi target ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Namun, investor Indonesia perlu waspada terhadap potensi perubahan strategi bisnis PayPal yang dapat memengaruhi kemitraan dan layanan lintas batas.
Dengan segala dinamika yang ada, masa depan PayPal masih diselimuti ketidakpastian. Apakah dewan direksi akan membuka negosiasi lebih lanjut, atau justru memilih bertahan dengan rencana turnaround terbaru? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa pekan mendatang, seiring dengan rilis laporan keuangan dan pertemuan dewan yang dijadwalkan.



