ServiceNow Caplok 5% Saham BusinessNext, Valuasi Startup India Tembus Rp10 Triliun
Baca dalam 60 detik
- ServiceNow Ventures menginvestasikan 40 juta dolar AS untuk kepemilikan 5% di BusinessNext, menempatkan valuasi perusahaan perangkat lunak perbankan asal India itu di angka 700 juta dolar AS.
- Dana segar akan digunakan BusinessNext untuk memperkuat ekspansi penjualan di Asia Tenggara dan Australia, sejalan dengan adopsi AI yang masif di sektor perbankan global.
- Kemitraan ini memungkinkan integrasi AI agen BusinessNext ke dalam platform kontrol terpusat ServiceNow, memperkuat posisi keduanya di pasar perangkat lunak enterprise.

ServiceNow, raksasa perangkat lunak asal Amerika Serikat, mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi sekitar 5 persen saham BusinessNext, perusahaan rintisan India yang fokus pada solusi perbankan otonom. Kesepakatan yang diumumkan pada Rabu (22/7) itu menempatkan valuasi BusinessNext di angka 700 juta dolar AS, atau setara lebih dari Rp10 triliun.
Melalui lengan venturanya, ServiceNow Ventures, perusahaan yang dipimpin oleh Bill McDermott itu mengucurkan dana 40 juta dolar AS dalam putaran pendanaan Seri C. Bagi BusinessNext, suntikan modal ini bukan sekadar tambahan likuiditas, melainkan tiket untuk mempercepat penetrasi pasar di kawasan yang selama ini menjadi target utama: Asia Tenggara dan Australia.
Nishant Singh, CEO BusinessNext, mengungkapkan bahwa prioritas perusahaan saat ini bukanlah melantai di bursa efek. “Setiap perusahaan pada akhirnya harus IPO, tetapi saat ini kami belum memikirkan ke arah sana. Ambisi kami sekarang adalah beroperasi di setiap bank di dunia,” ujarnya kepada Reuters. Pernyataan itu menegaskan bahwa BusinessNext masih dalam mode agresif pertumbuhan, bukan mencari jalan keluar bagi investor awal.
Kemitraan dengan ServiceNow membawa dimensi baru bagi BusinessNext. Melalui AI control tower milik ServiceNow—sebuah platform terpusat untuk mengelola dan mengatur model serta agen kecerdasan buatan di seluruh perusahaan—BusinessNext dapat memantau kinerja agen AI mereka secara lebih ketat. Ini menjadi nilai jual krusial di tengah meningkatnya kebutuhan bank akan layanan yang dipersonalisasi, penanganan pertanyaan nasabah secara otomatis, dan efisiensi operasional.
Fenomena adopsi AI di sektor perbankan memang sedang melonjak. Bank-bank di berbagai negara berlomba mengintegrasikan teknologi serupa untuk menghemat waktu dan menarik lebih banyak nasabah. BusinessNext, yang bersaing langsung dengan Freshworks, telah mengamankan lebih dari 120 institusi keuangan sebagai klien, termasuk dua bank terbesar India: State Bank of India dan HDFC Bank.
Bagi Indonesia, langkah ServiceNow dan BusinessNext menjadi sinyal bahwa pasar Asia Tenggara—termasuk Indonesia—semakin dilirik sebagai lahan subur bagi solusi perbankan berbasis AI. Dengan penetrasi internet dan smartphone yang terus meningkat, bank-bank di Tanah Air diprediksi akan semakin bergantung pada teknologi otonom untuk meningkatkan layanan dan efisiensi. Kehadiran pemain seperti BusinessNext bisa menjadi katalis bagi transformasi digital perbankan nasional, meskipun persaingan dengan vendor lokal dan global lainnya dipastikan akan ketat.
ServiceNow sendiri tengah menikmati momentum positif. Pada hari yang sama, perusahaan merevisi naik proyeksi pendapatan berlangganan tahunannya untuk kedua kalinya, setelah berhasil melampaui estimasi pendapatan dan laba kuartal kedua. Lonjakan permintaan terhadap perangkat lunak bertenaga AI menjadi pendorong utama kinerja gemilang tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana BusinessNext mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah tekanan kompetisi dan ekspektasi investor. Dengan dana segar dan dukungan ServiceNow, peta jalan menuju dominasi di setiap bank di dunia mungkin bukan lagi sekadar ambisi.



