Korea Selatan Terpilih Jadi Tuan Rumah Invictus Games 2029, Pertama di Asia
Baca dalam 60 detik
- Kota Daejeon memenangkan hak menjadi tuan rumah Invictus Games 2029, mengalahkan San Diego dan Aalborg.
- Ini adalah kali pertama ajang olahraga veteran difabel tersebut digelar di Asia, menandai babak baru bagi komunitas Invictus.
- Penyelenggaraan di Korea diharapkan mengubah persepsi masyarakat terhadap veteran disabilitas, seperti diungkapkan mantan peserta asal Korea.

Korea Selatan resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Invictus Games 2029, sebuah ajang olahraga bagi veteran dan personel militer yang terluka, sakit, atau cedera. Pemilihan ini menandai pertama kalinya kompetisi yang digagas Pangeran Harry tersebut digelar di benua Asia, membuka peluang baru bagi perluasan dampak sosial dan rehabilitasi melalui olahraga.
Kompetisi yang pertama kali digelar pada 2014 di London itu akan berlangsung di Kota Daejeon pada 6โ15 Oktober 2029. Daejeon berhasil mengungguli dua kandidat kuat lainnya, San Diego (Amerika Serikat) dan Aalborg (Denmark), dalam proses bidding yang ketat. Lord Charles Allen, Ketua Invictus Games Foundation, menyebut pemilihan ini sebagai "momen yang menentukan" bagi perjalanan Invictus Games.
"Sebagai negara Asia pertama yang terpilih menjadi tuan rumah, Republik Korea mewakili babak baru yang menarik dalam upaya kami memastikan lebih banyak personel militer dan veteran yang terluka, sakit, atau cedera, di mana pun mereka tinggal, dapat merasakan kekuatan olahraga dan kekuatan komunitas Invictus," ujar Lord Allen dalam pernyataan resmi. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya sangat terkesan dengan visi Daejeon, komitmen para mitra, dan ambisi untuk menciptakan warisan abadi yang melampaui upacara penutupan.
Invictus Games 2029 akan mempertandingkan 12 cabang olahraga yang diikuti sekitar 550 atlet dari 26 negara. Angka ini menunjukkan skala kompetisi yang terus berkembang sejak edisi perdananya. Bagi Indonesia, ajang ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap veteran dan personel militer difabel, mengingat belum ada partisipasi signifikan dalam ajang serupa. Keberhasilan Korea sebagai tuan rumah Asia pertama dapat menjadi contoh bagi negara-negara tetangga untuk lebih aktif dalam rehabilitasi veteran melalui olahraga.
Salah satu mantan peserta Invictus Games asal Korea, Na Hyeong-yoon, yang tampil dalam serial televisi Heart of Invictus garapan Pangeran Harry, menyambut antusias keputusan ini. Atlet balap sepeda tersebut percaya bahwa ajang ini dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. "Saya selalu percaya bahwa hambatan terbesar bukanlah disabilitas itu sendiri, melainkan cara masyarakat memandangnya. Melalui Invictus Games, saya melihat persepsi itu bisa berubah. Kini, pada 2029, giliran Korea untuk memimpin perubahan itu," tuturnya.
Pemilihan Korea juga terjadi tak lama setelah Pangeran Harry berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di Birmingham, Inggris, sebagai bagian dari hitung mundur satu jelang Invictus Games 2028 yang akan digelar di kota tersebut. Dalam pidatonya, Harry menyebut bahwa membawa kompetisi kembali ke Inggris adalah momen yang "sangat istimewa", tidak hanya karena tempat kelahiran Invictus, tetapi juga karena Inggris selalu memahami pentingnya pengabdian, ketangguhan, dan kebersamaan. Namun, dengan terpilihnya Korea, fokus kini beralih ke Asia, diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak negara untuk mendukung veteran difabel.
Ke depan, tantangan bagi Korea adalah memastikan bahwa warisan Invictus Games tidak berhenti pada seremonial belaka. Infrastruktur yang ramah disabilitas, program pasca-kompetisi, serta perubahan regulasi ketenagakerjaan bagi veteran difabel menjadi indikator keberhasilan yang akan diawasi oleh komunitas internasional. Apakah Daejeon mampu menjadi katalis perubahan sosial yang lebih luas di kawasan Asia? Jawabannya baru akan terlihat pada 2029 dan tahun-tahun setelahnya.



