Pangeran Harry Serukan 'Ketahanan Nasional' Inggris Lewat Invictus Games
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry mendorong pengembangan ketahanan nasional di Inggris dan global saat memperingati hitung mundur satu tahun Invictus Games di Birmingham.
- Acara yang digagasnya untuk veteran perang ini menjadi simbol bagaimana trauma dapat diubah menjadi kekuatan kolektif.
- Komentar Harry muncul di tengah perdebatan tentang identitas olahraga, setelah ia spontan mengoreksi penyebutan 'soccer' menjadi 'football'.

Pangeran Harry, Duke of Sussex, menyerukan penguatan 'ketahanan nasional' di Inggris dan dunia saat menghadiri acara hitung mundur satu tahun Invictus Games di Birmingham. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa semangat para peserta—personel militer yang terluka—dapat menjadi teladan bagi masyarakat luas dalam menghadapi kesulitan.
Berbicara dalam program This Morning di ITV, Harry yang kini menetap di California bersama Meghan Markle mengungkapkan bahwa momen sulit justru bisa menjadi pemicu pertumbuhan resiliensi. "Ketika Anda benar-benar terdesak, cara Anda memutuskan untuk menggunakan trauma, pengalaman, atau kehilangan itu—itulah yang membuat orang bisa terhubung," ujarnya. Ia menambahkan bahwa saat ini, lebih dari sebelumnya, Inggris dan dunia perlu membangun ketahanan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan di Birmingham, kota yang akan menjadi tuan rumah Invictus Games tahun depan. Ajang multi-olahraga yang pertama kali digelar di London pada 2014 ini kembali ke Inggris untuk pertama kalinya. Harry menyebut momen itu "sangat istimewa" karena Inggris selalu memahami arti pelayanan, ketahanan, dan kebersamaan.
Dalam kesempatan yang sama, Harry sempat melakukan koreksi spontan saat menyebut pertandingan perempat final Piala Dunia antara Inggris dan Norwegia sebagai 'soccer'. Saat presenter Alison Hammond mengundangnya ke rumah untuk makan masakan Jamaika, Harry menjawab, "Dan beberapa soccer juga? Maksudku football. Maaf, football, bukan soccer." Momen ringan ini menunjukkan perhatiannya pada istilah lokal, meski ia telah lama tinggal di Amerika Serikat.
CEO Invictus Games Birmingham, Helen Helliwell, menyambut antusias kehadiran Harry. "Dia bukan hanya pelindung yayasan, tapi juga pendiri Invictus Games. Dia selalu membawa kecemerlangan dan keajaiban," katanya. Helliwell menambahkan bahwa Harry adalah pendukung besar komunitas angkatan bersenjata, dan kehadirannya selalu disambut hangat oleh para peserta dan keluarga mereka.
Bagi Indonesia, seruan Harry tentang ketahanan nasional relevan di tengah upaya pemerintah membangun resiliensi masyarakat, terutama dalam menghadapi bencana alam dan krisis kesehatan. Semangat Invictus Games—mengubah kelemahan menjadi kekuatan—dapat menjadi inspirasi bagi program rehabilitasi veteran dan penyandang disabilitas di Tanah Air.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana pesan ketahanan ini tidak hanya menjadi retorika, tetapi diimplementasikan dalam kebijakan publik. Mampukah Inggris—dan negara lain—meniru resiliensi yang ditunjukkan para peserta Invictus Games?



