Rudi Garcia Angkat Koper dari Timnas Belgia Usai Kontrak Tak Diperpanjang
Baca dalam 60 detik
- Rudi Garcia meninggalkan kursi pelatih Belgia setelah kontraknya berakhir pada Juli 2026, tidak diperpanjang federasi.
- Di bawah asuhannya, Belgia mencapai perempat final Piala Dunia 2026, kalah dari Spanyol yang akhirnya juara.
- Federasi Belgia kini bersiap mencari pelatih baru untuk siklus berikutnya, dengan harapan mempertahankan performa positif.

Rudi Garcia resmi mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih tim nasional Belgia setelah federasi sepak bola negara itu memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Keputusan ini mengakhiri kepemimpinan pelatih asal Prancis yang membawa Belgia ke perempat final Piala Dunia 2026, sebuah pencapaian yang dianggap membangkitkan kembali kejayaan 'Setan Merah' di tengah tantangan finansial dan performa yang sempat meredup.
Garcia, yang kini berusia 62 tahun, ditunjuk pada Januari 2025 menggantikan Domenico Tedesco. Kontraknya yang berlaku hingga akhir Juli 2026 tidak akan diperpanjang, demikian diumumkan oleh Royal Belgian FA. Selama 18 bulan menjabat, Garcia memimpin Belgia dalam 20 pertandingan dengan catatan 12 kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya dua kekalahan. Salah satu momen puncaknya adalah saat Belgia melaju ke perempat final Piala Dunia 2026, meski akhirnya takluk 2-1 dari Spanyol yang keluar sebagai juara.
Direktur Olahraga Royal Belgian FA, Vincent Mannaert, memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Garcia. "Rudi Garcia tidak diragukan lagi memainkan peran kunci dalam memulihkan Timnas Belgia. Ia ditunjuk dalam konteks olahraga dan keuangan yang menantang. Berkat komitmen dan pengalamannya, kohesi tim pulih dan hasil kuat diraih di Piala Dunia terakhir," ujar Mannaert dalam pernyataan resmi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Garcia dan asistennya, serta mengonfirmasi bahwa federasi sedang mempersiapkan siklus baru, termasuk mencari pelatih kepala baru.
Perjalanan Belgia di Piala Dunia 2026 tidak sepenuhnya mulus. Di fase grup, mereka hanya memenangi satu dari tiga pertandingan dan tampil kurang meyakinkan. Namun, performa tim meningkat drastis di babak gugur, dimulai dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Senegal di babak 32 besar berkat comeback luar biasa. Selanjutnya, Belgia menghancurkan tuan rumah Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar, meski laga tersebut diwarnai kontroversi keputusan FIFA yang menunda skorsing penyerang AS, Folarin Balogun. Garcia sendiri menyebut insiden itu seperti "lelucon April Mop".
Kepergian Garcia menandai akhir dari era singkat namun berdampak bagi Belgia. Pelatih yang sebelumnya menangani Roma, Lyon, Napoli, dan Marseille ini dikenal tidak betah berlama-lama di satu klubโia tak pernah bertahan lebih dari dua tahun sejak meninggalkan Marseille pada 2019. Kini, federasi Belgia dihadapkan pada tugas mencari pengganti yang mampu melanjutkan momentum positif dan mempersiapkan tim menghadapi turnamen-turnamen mendatang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika di tubuh tim sekelas Belgia selalu menarik dicermati, terutama dalam konteks persaingan di level internasional. Dengan potensi perubahan format Piala Dunia menjadi 64 tim, persaingan semakin ketat dan strategi federasi dalam membangun tim jangka panjang menjadi krusial. Pertanyaan besarnya: siapakah yang akan dipercaya mengarsiteki 'Setan Merah' untuk siklus berikutnya, dan mampukah mereka kembali bersaing di papan atas sepak bola dunia?



