Bradford Akhiri Rentetan Kekalahan, Castleford Makin Terpuruk di Super League
Baca dalam 60 detik
- Bradford Bulls memutus tren negatif dengan kemenangan derby atas Castleford, sekaligus memperbaiki posisi mereka di klasemen.
- Kekalahan ini menambah daftar panjang masalah Castleford yang kini tanpa pelatih kepala dan hanya menang sekali dalam tujuh laga terakhir.
- Laga pamungkas melawan York Knights akan menentukan nasib Bradford dalam upaya menghindari 'wooden spoon' di musim debut mereka.

Bradford Bulls akhirnya memutus rantai kekalahan beruntun mereka di Super League dengan kemenangan meyakinkan atas Castleford Tigers di Stadion Odsal, Minggu (4/8). Kemenangan ini tidak hanya mengakhiri tujuh kekalahan beruntun Bradford, tetapi juga memperdalam krisis yang melanda Castleford yang kini tanpa nahkoda.
Sejak awal laga, Bradford tampil dominan. Kehadiran tiga pemain depan senior yang kembali memperkuat tim menjadi pembeda. Mereka langsung menekan pertahanan Castleford yang tampak rapuh. Pada babak pertama saja, Bradford sudah unggul telak lewat try dari Riley Dean, Connor Wynne, Caleb Aekins, Dan Russell, dan Waqa Blake. Peran penting dimainkan oleh scrum half Chris Atkin yang menjadi otak serangan Bradford.
Castleford, yang dilatih oleh manajer sementara setelah ditinggal pelatih kepala, mencoba bangkit di babak kedua. Dua try dari Krystian Mapapalangi dan satu dari Alex Mellor sempat memberi harapan. Namun, try dari Ebon Scurr pada menit ke-52 memastikan keunggulan Bradford tetap aman. Hasil ini membawa Bradford naik ke peringkat yang sama dengan York Knights, Huddersfield Giants, dan Hull FC dengan satu laga tersisa.
Bagi Bradford, musim ini adalah musim pertama mereka kembali ke Super League setelah promosi. Target utama mereka adalah menghindari predikat 'wooden spoon' atau juru kunci. Kemenangan ini memberi mereka harapan besar, terlebih mereka akan menghadapi York Knights yang berada di posisi kedua terbawah pada laga pamungkas pekan depan. Pelatih Kurt Haggerty pasti akan memanfaatkan momentum ini untuk mempersiapkan tim sebaik mungkin.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Castleford. Mereka kini tanpa pelatih kepala dan performa tim sangat buruk. Hanya Mapapalangi yang tampil menonjol dengan dua try-nya, namun itu tidak cukup untuk menyelamatkan timnya. Castleford harus segera mencari solusi jika tidak ingin terdegradasi ke divisi bawah.
Bagi pengamat rugby league di Indonesia, meski olahraga ini belum populer, performa tim-tim seperti Bradford dan Castleford bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan manajemen tim. Di kompetisi domestik Indonesia, seperti Liga Rugby Indonesia yang mulai berkembang, klub-klub bisa belajar dari kasus Castleford yang kehilangan arah setelah ditinggal pelatih. Sebaliknya, kebangkitan Bradford menunjukkan bahwa kembalinya pemain kunci bisa mengubah dinamika tim secara drastis.
Dengan satu laga tersisa, pertanyaan besarnya adalah: akankah Bradford mampu memanfaatkan peluang emas ini untuk bertahan di Super League? Atau justru Castleford yang akan menemukan kembali ritme permainan mereka di tengah kekacauan internal? Jawabannya akan ditentukan di lapangan pada pekan terakhir kompetisi.



