Misi Sulit Italia: Maldini Gagal Bujuk Guardiola, Pirlo dan Mancini Jadi Opsi
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Paolo Maldini dan Leonardo dengan Pep Guardiola di Barcelona belum membuahkan hasil; pelatih asal Spanyol itu dikabarkan ingin rehat setelah 10 tahun menangani Manchester City.
- Fabrizio Romano menyebut hanya 'keajaiban' yang bisa membuat Guardiola menerima tawaran FIGC, karena prioritasnya saat ini adalah keluarga.
- Jika negosiasi gagal, Andrea Pirlo dan Roberto Mancini menjadi kandidat utama pelatih Timnas Italia berikutnya.

Upaya Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk mendatangkan Pep Guardiola sebagai pelatih kepala Timnas Azzurri nyaris mustahil. Jurnalis transfer kenamaan Fabrizio Romano mengungkapkan bahwa mantan arsitek Manchester City itu lebih memilih jeda panjang ketimbang langsung menukangi tim nasional mana pun.
Direktur teknis FIGC, Paolo Maldini, bersama penasihatnya Leonardo, telah terbang ke Barcelona akhir pekan lalu untuk bertemu langsung dengan Guardiola. Foto keduanya di dalam pesawat dalam perjalanan pulang ke Italia beredar luas di media sosial, memicu spekulasi bahwa negosiasi tengah berlangsung. Namun, menurut Romano, hasil pertemuan itu jauh dari harapan.
“Realitas dari orang-orang terdekat Guardiola adalah bahwa ia berencana meluangkan waktu untuk keluarga dan tidak langsung kembali bekerja,” ujar Romano dalam kanal YouTube-nya. “Jika mereka berhasil meyakinkannya, itu adalah keajaiban dan mahakarya, karena peluangnya sangat kecil.”
FIGC sebenarnya menjadikan Guardiola sebagai prioritas utama untuk menggantikan pelatih interim yang kini menukangi Italia. Namun, keengganan Guardiola untuk segera kembali ke dunia kepelatihan membuat federasi harus menyiapkan rencana cadangan. Romano dan sejumlah sumber Italia menyebut Andrea Pirlo serta Roberto Mancini sebagai kandidat terdepan jika Guardiola menolak tawaran.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kegagalan mendatangkan Guardiola bukanlah kejutan besar. Pelatih kelahiran Santpedor itu dikenal sangat selektif dalam memilih proyek dan selalu menekankan pentingnya keseimbangan hidup. “Guardiola adalah tipe pelatih yang ingin membangun dari awal, bukan sekadar menerima pekerjaan. Italia mungkin tidak menawarkan stabilitas jangka panjang seperti yang ia inginkan,” kata analis sepak bola Italia, Matteo Bonetti.
Konteks Indonesia: Bagi pencinta sepak bola Tanah Air, saga ini mengingatkan pada sulitnya federasi sepak bola Asia Tenggara mendatangkan pelatih top Eropa. PSSI misalnya, sempat dikaitkan dengan beberapa nama besar namun selalu gagal karena faktor gaji dan visi jangka panjang. Pelajaran dari Italia menunjukkan bahwa daya tarik finansial saja tidak cukup; pelatih sekaliber Guardiola membutuhkan proyek ambisius dan dukungan penuh federasi.
Jika Guardiola akhirnya memutuskan rehat, Italia harus segera bergerak. Pirlo, yang pernah menukangi Juventus dan Timnas U-20 Italia, dianggap sebagai pilihan natural karena gaya bermainnya yang menyerang. Sementara Mancini, yang sukses membawa Italia juara Euro 2020, masih memiliki hubungan baik dengan FIGC meski sempat hengkang pada 2023.
Pertanyaan besarnya: akankah FIGC mampu menunggu Guardiola hingga ia siap, atau justru memilih jalan pragmatis dengan menunjuk Pirlo atau Mancini dalam waktu dekat? Keputusan ini akan menentukan arah sepak bola Italia dalam beberapa tahun ke depan, terutama menjelang Piala Dunia 2026.



