HKEX Kaji Perpanjangan Jam Bursa: Pasar Modal Hong Kong Siap Berubah
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Hong Kong (HKEX) tengah mengevaluasi opsi perpanjangan jam perdagangan, termasuk memulai sesi lebih awal dan menghapus jeda siang.
- Langkah ini bertujuan memperkuat daya saing Hong Kong sebagai pusat keuangan global, namun berpotensi memicu resistensi dari kalangan pialang saham.
- Revisi jam bursa dapat berdampak pada partisipasi investor China daratan melalui Stock Connect yang menyumbang 23% volume perdagangan saham Hong Kong.

Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX) tengah menjajaki kemungkinan merevisi jam perdagangan efek, termasuk memulai sesi lebih awal dan menghilangkan jeda istirahat siang. Langkah ini diambil untuk memperkuat daya saing Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional di tengah persaingan ketat dengan bursa-bursa global.
Juru bicara HKEX dalam pernyataan tertulis kepada Reuters, Senin (20/7), menegaskan komitmen bursa untuk terus meningkatkan aksesibilitas pasar. Fokus utama saat ini adalah perluasan jam perdagangan derivatif, yang masih memerlukan konsultasi pasar dan persetujuan regulator. Adapun perubahan jam perdagangan saham (cash market) masih dalam tahap eksplorasi awal.
Menurut laporan Bloomberg yang pertama kali mengungkap rencana ini, HKEX telah menyampaikan sejumlah proposal kepada para pialang besar dan perusahaan perdagangan dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu usulan yang menonjol adalah memulai perdagangan saham 30 menit lebih awal dari waktu pembukaan saat ini serta menghilangkan jeda makan siang. Jika diterapkan, jam perdagangan saham Hong Kong akan menjadi lebih panjang dan kontinu, menyerupai bursa-bursa utama seperti Singapura dan Tokyo.
Namun, perubahan jam perdagangan bukanlah perkara baru yang tanpa gejolak. Pada 2011, HKEX pernah memundurkan waktu pembukaan sesi pagi menjadi pukul 09:30 waktu setempat dan secara bertahap mempersingkat jeda siang. Kebijakan itu memicu protes dari kalangan pialang saham yang menilai perubahan tersebut memperburuk kondisi kerja. Kini, kekhawatiran serupa kembali mengemuka, terutama terkait beban operasional dan kesejahteraan tenaga kerja di sektor jasa keuangan.
Implikasi lain yang tak kalah penting adalah dampaknya terhadap partisipasi investor China daratan melalui jalur selatan Stock Connect. Dengan volume perdagangan yang mencapai hampir seperempat dari total omzet bursa Hong Kong, perubahan jam perdagangan dapat memengaruhi pola transaksi dan strategi investor lintas batas. Jika jam perdagangan diperpanjang, investor China daratan akan memiliki lebih banyak waktu untuk bertransaksi, namun di sisi lain, perubahan ini juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan karena harus menyesuaikan diri dengan jadwal baru.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Hong Kong selama ini menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio asal Indonesia, baik melalui reksa dana maupun pembelian langsung saham perusahaan tercatat di bursa Hong Kong. Perubahan jam perdagangan dapat memengaruhi likuiditas dan volatilitas pasar, yang pada gilirannya berdampak pada nilai investasi para pemodal Indonesia. Otoritas pasar modal di Tanah Air, seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kiranya perlu memantau dinamika ini sebagai bahan evaluasi kebijakan jam perdagangan domestik.
Ke depan, HKEX masih harus melalui serangkaian konsultasi dengan pelaku pasar dan mendapatkan persetujuan regulator sebelum setiap perubahan dapat diberlakukan. Pertanyaan besarnya: apakah para pialang dan investor siap menerima perubahan ini tanpa gejolak seperti satu dekade lalu? Atau justru sebaliknya, resistensi akan kembali muncul dan memaksa HKEX mengerem langkahnya?



