Euratex Dorong Bea Masuk 10 Euro untuk Impor Fesyen Murah: Sinyal Perang Dagang Baru bagi Ritel Global
Baca dalam 60 detik
- Federasi tekstil Eropa, Euratex, mengusulkan biaya penanganan 10 euro untuk setiap impor pakaian guna menekan banjir produk murah asal China.
- Langkah ini menyusul bea 3 euro yang diberlakukan UE pada Juli lalu dan pajak 20 euro per item yang mulai diterapkan Prancis, menandakan eskalasi regulasi di sektor fesyen cepat.
- Jika diterapkan, kebijakan ini dapat mengubah peta persaingan e-commerce global, termasuk bagi platform seperti Shein yang kini merambah pasar Indonesia.

Serikat industri tekstil Eropa, Euratex, secara resmi meminta Uni Eropa memberlakukan biaya impor sebesar 10 euro (sekitar Rp170 ribu) untuk setiap produk fesyen yang masuk ke kawasan tersebut. Usulan ini diajukan pada Selasa (2/9) sebagai respons atas membanjirnya pakaian murah, terutama dari China, yang dinilai mengancam kelangsungan industri tekstil lokal yang menyerap 1,3 juta tenaga kerja.
Langkah Euratex ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri. Sebelumnya, pada Juli lalu, UE telah mengenakan bea masuk 3 euro untuk paket murah yang dikirim ke negara-negara anggotanya, dengan dalih membebani otoritas bea cukai. Prancis bahkan lebih agresif: sejak Selasa pekan ini, negara tersebut mulai memungut pajak atas produk fesyen ultra-cepat yang nilainya akan mencapai hampir 20 euro per potong pakaian. Eskalasi ini menunjukkan bahwa Eropa tengah membangun benteng pertahanan berlapis untuk melindungi industri tekstilnya dari gempuran produk impor murah.
Presiden Euratex, Mario Jorge Machado, menyambut positif bea yang sudah ada, tetapi menegaskan bahwa "kita tidak bisa berhenti di sini". Dalam pernyataannya di sebuah konferensi industri di Paris, ia menjelaskan bahwa biaya penanganan 10 euro tersebut akan memberikan sumber daya bagi otoritas bea cukai untuk mengidentifikasi barang-barang yang tidak aman dan tidak sesuai regulasi. Euratex juga memperingatkan agar tidak ada celah yang memungkinkan impor dalam jumlah besar atau penggunaan gudang di Eropa untuk menghindari pajak, demi menciptakan lapangan bermain yang setara bagi industri Eropa yang terdiri dari sekitar 200 ribu perusahaan.
Langkah proteksionis ini datang di tengah gejolak yang dialami raksasa fesyen cepat asal China, Shein. Debut sahamnya di bursa baru-baru ini berjalan lesu, sebagian besar disebabkan oleh bea baru UE dan kebijakan serupa di Amerika Serikatโdua pasar utama bagi perusahaan tersebut. Menariknya, meski menghadapi tekanan regulasi, basis pelanggan Shein di Eropa justru tumbuh menjadi 156 juta pengguna bulanan rata-rata hingga akhir 2025, menjadikannya salah satu platform e-commerce terbesar di benua itu, bersaing ketat dengan AliExpress (193 juta pengguna) dan Amazon (sekitar 180 juta pengguna).
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Meski kebijakan tersebut ditujukan untuk melindungi industri Eropa, efeknya akan terasa hingga ke pasar Asia Tenggara. Platform seperti Shein dan AliExpress telah menjadi primadona bagi konsumen Indonesia yang mencari pakaian murah dengan tren terbaru. Jika Eropa berhasil menekan impor murah, para pemain ini mungkin akan mengalihkan fokus ke pasar yang lebih longgar regulasinya, termasuk Indonesia. Hal ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi, konsumen Indonesia akan terus menikmati harga murah; di sisi lain, industri tekstil dalam negeri yang juga berjuang melawan produk impor ilegal bisa semakin tertekan.
China, sebagai negara asal mayoritas produk fesyen cepat, telah mengeluarkan peringatan akan adanya potensi retaliasi terhadap kebijakan bea masuk ini. Ini menandakan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal tarif, melainkan juga menyangkut hubungan dagang yang kompleks antara dua kekuatan ekonomi besar. Jika retaliasi benar-benar terjadi, rantai pasok global bisa terganggu, dan harga pakaian di berbagai negara, termasuk Indonesia, berpotensi naik.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah kebijakan ini benar-benar efektif menekan dominasi fesyen cepat, atau justru memicu perang dagang yang lebih luas? Bagi Indonesia, yang tengah giat mendorong hilirisasi industri tekstil, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa persaingan global tidak hanya soal harga, tetapi juga regulasi dan keberlanjutan. Apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa untuk melindungi industri tekstilnya, atau justru memanfaatkan celah untuk menarik investasi dari perusahaan yang terdampak kebijakan Eropa? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: peta persaingan fesyen global sedang ditulis ulang.



