Kebiasaan Begadang Terkait dengan Risiko Obesitas dan Gangguan Metabolik
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 287 perempuan menemukan bahwa tipe kronotipe malam (night owl) cenderung memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi dan profil metabolik yang lebih buruk.
- Kebiasaan makan di larut malam pada kelompok evening type dikaitkan dengan peningkatan kadar gula darah, trigliserida, dan HbA1c, yang merupakan penanda risiko diabetes.
- Para ahli menyarankan agar penilaian kronotipe diintegrasikan ke dalam konseling gizi, terutama untuk pasien dengan obesitas atau sindrom metabolik.

Kebiasaan begadang atau menjadi "night owl" tidak hanya mengganggu jadwal tidur, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kegemukan dan gangguan metabolik. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Frontiers mengungkap bahwa perempuan dengan preferensi tidur larut malam cenderung memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi serta profil gula darah dan lemak yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidur lebih awal.
Penelitian ini melibatkan 287 perempuan berusia 18โ45 tahun dari Eropa dan Selandia Baru yang merupakan bagian dari studi PROMISE (PRedictors linking Obesity and the gut MIcrobiome). Partisipan dibagi menjadi tiga kelompok kronotipe: tipe pagi, tipe menengah, dan tipe malam. Sekitar setengah dari partisipan masuk dalam kategori menengah, sementara sisanya adalah tipe pagi atau malam. Kelompok tipe malam lebih banyak berasal dari keturunan Pasifik dan memiliki indeks deprivasi yang lebih tinggi, yang mungkin memengaruhi akses terhadap makanan sehat.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok tipe malam memiliki lingkar pinggang dan pinggul yang lebih besar, persentase lemak viseral dan lemak android (lemak tubuh bagian atas) yang lebih tinggi, serta kadar gula darah dan trigliserida yang meningkat. Menariknya, kelompok pagi dan menengah justru memiliki kadar kolesterol LDL ("kolesterol jahat") yang lebih tinggi. Selain itu, tipe malam cenderung mengonsumsi lebih banyak karbohidrat dan total energi harian, terutama pada periode larut malam hingga dini hari.
Waktu makan menjadi faktor kunci. Partisipan tipe malam mengonsumsi lebih banyak energi, lemak, dan protein pada jendela larut malam hingga awal malam, sementara kelompok pagi dan menengah lebih banyak makan pada larut malam hingga pagi hari. Setelah penyesuaian, asupan lemak dan protein tetap lebih tinggi pada kelompok tipe malam di periode tersebut. Pola ini diperkuat pada partisipan dengan persentase lemak tubuh tinggi: mereka justru mengurangi asupan pada larut malam/awal pagi dan meningkatkan asupan pada larut malam/awal malam.
Korelasi antara waktu tidur larut dan biomarker metabolik yang buruk juga ditemukan. Partisipan dengan waktu tidur lebih lambat memiliki kadar insulin dan trigliserida yang lebih tinggi. Sementara itu, asupan energi yang besar pada malam hari dikaitkan dengan peningkatan HbA1c, penanda prediabetes atau diabetes. Para peneliti menekankan bahwa temuan ini bersifat observasional dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat, namun memberikan indikasi kuat tentang pentingnya kronotipe dalam kesehatan metabolik.
Dari sudut pandang klinis, para ahli endokrinologi dan gizi menyarankan agar kronotipe dipertimbangkan dalam penilaian nutrisi. "Waktu makan, selain total kalori, mungkin memainkan peran penting dalam distribusi lemak tubuh dan kesehatan metabolik," ujar Sura Alqaisi, MD, ahli endokrinologi dari UTMB. Ia menambahkan bahwa pengamatan terhadap kadar trigliserida, insulin, HbA1c, dan leptin yang lebih tinggi pada tipe malam semakin memperkuat hubungan ini. Mir Ali, MD, spesialis bedah bariatrik, menekankan pentingnya mengurangi asupan karbohidrat dan gula pada malam hari serta memperbanyak protein dan sayuran non-pati.
Implikasi bagi Indonesia, di mana gaya hidup urban sering kali mendorong kebiasaan begadang dan konsumsi makanan tinggi kalori di malam hari, temuan ini relevan. Banyak pekerja kantoran dan mahasiswa yang terjebak dalam pola tidur larut akibat tuntutan pekerjaan atau hiburan digital. Jika tidak diimbangi dengan pengaturan waktu makan yang tepat, risiko obesitas dan diabetes tipe 2 dapat meningkat. Pendekatan nutrisi yang dipersonalisasi berdasarkan kronotipe individu bisa menjadi strategi baru dalam penanganan masalah metabolik di tanah air.
Ke depan, penelitian jangka panjang diperlukan untuk memvalidasi temuan ini dan mengembangkan intervensi yang disesuaikan. Pertanyaan yang mengemuka: akankah konseling gizi di Indonesia mulai mempertimbangkan jam biologis pasien, atau kita akan terus mengabaikan faktor waktu dalam pola makan?



