Tidur Lebih dari 8,5 Jam Sehari Bisa Jadi Tanda Awal Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru menemukan kaitan antara durasi tidur panjang dan kadar biomarker p-tau181 yang menandakan patologi Alzheimer.
- Peneliti menekankan bahwa tidur panjang belum tentu berkualitas; tidur terfragmentasi justru dapat mengganggu proses pembersihan otak.
- Temuan ini membuka peluang deteksi dini melalui pemantauan pola tidur, meski hubungan sebab-akibat masih perlu diteliti lebih lanjut.

Durasi tidur yang melebihi 8,5 jam per malam ternyata tidak selalu menandakan istirahat yang cukup—sebaliknya, hal itu bisa menjadi sinyal awal perubahan neurodegeneratif yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia dan menjadi sorotan karena menghubungkan kebiasaan tidur dengan biomarker darah spesifik.
Peneliti menganalisis data dari 2.410 partisipan Framingham Heart Study dengan usia rata-rata 70 tahun. Mereka mengukur empat biomarker darah, termasuk p-tau181, yang merupakan penanda akumulasi protein tau di otak—ciri khas Alzheimer. Hasilnya, partisipan yang tidur lebih dari 8,5 jam per malam memiliki kadar p-tau181 yang lebih tinggi secara signifikan, dengan lonjakan tajam pada mereka yang tidur 10 jam atau lebih.
Menariknya, hubungan ini membentuk kurva J: tidur pendek (≤6 jam) juga menunjukkan kadar p-tau181 lebih tinggi dibandingkan tidur normal (6-9 jam), namun peningkatan paling dramatis terjadi pada kelompok tidur panjang. Temuan ini tetap signifikan setelah memperhitungkan faktor usia, depresi, penggunaan antidepresan, dan demensia.
Steven Allder, konsultan neurologis di Re:Cognition Health yang tidak terlibat dalam studi, menekankan bahwa durasi tidur saja tidak mencerminkan kualitas tidur. “Seseorang yang menghabiskan 9 atau 10 jam di tempat tidur mungkin mengalami tidur terfragmentasi tanpa sadar. Padahal, tidur nyenyak berperan penting dalam membersihkan protein amiloid dari otak melalui sistem glimfatik,” ujarnya. Gangguan pada proses restoratif ini dapat mempercepat penumpukan plak amiloid yang terkait dengan Alzheimer.
Penulis utama studi, Vanessa M. Young dari UT Health San Antonio, mengingatkan bahwa penelitian ini hanya potret sesaat. “Kami tidak bisa mengatakan tidur panjang menyebabkan Alzheimer, tetapi temuan ini layak dipantau. Lebih banyak tidur tidak selalu lebih baik untuk kesehatan otak,” katanya dalam siaran pers. Young menambahkan bahwa perubahan tidur bisa jadi merupakan akibat awal dari patologi Alzheimer yang memengaruhi area otak pengatur siklus tidur-bangun.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia terus bertambah, dan deteksi dini Alzheimer menjadi krusial. Meski belum ada obat yang menyembuhkan, diagnosis awal memungkinkan penggunaan terapi modifikasi penyakit seperti lecanemab dan donanemab, serta memberikan waktu bagi keluarga untuk merencanakan perawatan.
Allder menyarankan agar tidur tidak dilihat secara terisolasi. “Demensia dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara genetik, kesehatan pembuluh darah, gaya hidup, dan penuaan. Tidur hanyalah satu bagian dari teka-teki. Menjaga kebersihan tidur, aktivitas fisik rutin, mengurangi risiko kardiovaskular, dan stimulasi kognitif tetap menjadi strategi paling masuk akal untuk menjaga kesehatan otak jangka panjang,” pungkasnya.
Ke depan, para peneliti berharap studi prospektif dapat mengikuti individu sehat sejak awal, mengukur biomarker Alzheimer, dan memantau perubahan tidur selama bertahun-tahun untuk memastikan apakah tidur panjang merupakan penyebab atau gejala awal. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah intervensi pada kualitas tidur dapat memperlambat perjalanan penyakit Alzheimer?



