Cara Delevingne Buka Suara: Era Modelling Penuh Bahaya dan Pelecehan Seksual
Baca dalam 60 detik
- Cara Delevingne mengungkap masa modelling di era pra-MeToo penuh dengan ketidakamanan dan nuansa pelecehan seksual.
- Ia mengaku dulu tidak bersimpati pada dirinya sendiri karena merasa telah memilih jalannya, namun kini menyesali sikap keras itu.
- Pengalaman ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan pekerja, terutama di industri kreatif yang rentan eksploitasi.

Cara Delevingne, aktris dan model berusia 33 tahun, mengungkap bahwa dunia modelling yang ia geluti di masa mudanya dipenuhi dengan ketidakamanan dan nuansa pelecehan seksual. Dalam wawancara dengan Sunday Times Culture, ia menyebut era tersebut sebagai masa yang kasar, jauh sebelum gerakan MeToo muncul.
Delevingne, yang kini telah empat tahun menjalani hidup sadar (sober) setelah berjuang melawan kecanduan dan masalah kesehatan mental, mengaku dulu kerap menyalahkan diri sendiri atas pilihan hidupnya. Ia merasa tidak berhak mengeluh karena dianggap telah memilih jalannya sendiri. Namun, kini ia menyesali sikap keras itu dan menyadari bahwa ia tidak memberi ruang bagi dirinya untuk merasakan sakit atau kemarahan.
“Saya memodel di masa yang sulit. Tidak ada rasa aman saat itu, kecuali di antara sesama model perempuan. Itu sebelum MeToo, dengan nuansa pelecehan seksual dari fotografer laki-laki yang lebih tua. Itulah mengapa saya sedih, karena saya masih menyimpan beban dari semua itu,” ujarnya.
Bintang serial Only Murders in the Building ini juga mengkritik ketidakadilan gender di industri hiburan. Menurutnya, perilaku liar yang ia tunjukkan di masa lalu tidak akan ditoleransi jika ia seorang perempuan, sementara aktor laki-laki seringkali lolos begitu saja. “Pria bisa lolos dengan itu, tapi saya tidak bisa menyebut satu pun aktris gila seperti saya dulu,” katanya.
Delevingne mengaku bahwa tubuhnya sempat memberikan sinyal bahaya. Ia mengalami psoriasis parah dan luka merah akibat terlalu banyak bekerja. “Sekarang saya melihat ke belakang dan benar-benar menghargai tubuh saya. Tubuh saya berkata, ‘Aku akan membereskannya’,” kenangnya.
Konteks Indonesia: Industri kreatif di Tanah Air juga tak luput dari isu serupa. Kasus pelecehan seksual di dunia modelling dan perfilman Indonesia kerap muncul, namun banyak yang tidak terungkap karena minimnya perlindungan hukum dan budaya diam. Pengakuan Delevingne bisa menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap pekerja kreatif, terutama perempuan, harus diperkuat. Regulasi seperti UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual) yang baru disahkan perlu diimplementasikan secara tegas di semua sektor, termasuk hiburan.
Delevingne kini mengaku bersyukur bisa keluar dari pusaran hiruk-pikuk Hollywood. Meski awalnya ia khawatir dilupakan, ia justru menemukan kesempatan untuk merawat diri dan hubungannya. “Itu memungkinkan saya untuk merawat diri sendiri, kehidupan saya, hubungan saya,” pungkasnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah industri fashion dan hiburan global—termasuk Indonesia—benar-benar berubah setelah gelombang MeToo? Ataukah kisah Delevingne hanya satu dari sekian banyak yang masih terpendam?



