Courtney Stodden Desak Jason Alexander Tak Cuma Minta Maaf, Tapi Aksi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Courtney Stodden menilai permintaan maaf publik Jason Alexander atas sketsa komedi 2012 belum cukup tanpa tindakan nyata, seperti dukungan terhadap undang-undang anti-pernikahan anak.
- Sketsa yang melibatkan Stodden saat masih berusia 17 tahun dinilai eksploitatif, dan ia menyoroti ketidakberdayaan hukum anak di bawah umur di industri hiburan.
- Kasus ini membuka kembali perdebatan tentang perlindungan anak di industri kreatif, relevan dengan dorongan regulasi serupa di Indonesia.

Courtney Stodden, yang kini berusia 31 tahun, kembali menyuarakan tuntutannya kepada aktor Jason Alexander—bukan sekadar permintaan maaf pribadi, melainkan langkah konkret yang berdampak sistemik. Ia menilai pengakuan publik Alexander atas sketsa kontroversial Funny or Die tahun 2012 belum cukup, selama tidak diikuti aksi nyata seperti mendukung kampanye penghapusan pernikahan anak di Amerika Serikat.
Dalam wawancara terbaru dengan The Hollywood Reporter, Stodden mengungkapkan bahwa hingga kini Alexander belum menyampaikan permintaan maaf secara pribadi. “Saya menghargai permintaan maaf publiknya. Tapi orang terus bertanya apakah dia sudah meminta maaf secara pribadi—dan dia belum. Permintaan maaf pribadi akan berarti, namun tindakan bermakna akan jauh lebih kuat,” ujarnya. Ia menantang Alexander untuk mendukung organisasi Unchained at Last dan rancangan undang-undang AB 1267 di California yang bertujuan melarang pernikahan anak.
Sketsa yang dimaksud, dirilis pada 2012, menampilkan Alexander—yang saat itu berusia 54 tahun—bersama Stodden dan mantan suaminya, Doug Hutchison. Dalam unggahan Instagram pada Senin (26/7) lalu, Stodden membeberkan detail yang selama ini ia pendam. Ia menulis bahwa Alexander berulang kali menggesekkan ponselnya ke dadanya sambil melontarkan lelucon bernada seksual, dan bahkan bercanda ingin “berbuat sesuatu” dengannya saat ia genap 18 tahun. “Saya melihat seorang gadis 17 tahun yang tubuhnya menjadi bagian dari lelucon orang dewasa. Orang masih bilang, ‘Kamu memilih untuk ada di sana.’ Secara hukum, saya tidak bisa membuat keputusan itu sendiri,” tulisnya.
Stodden menekankan bahwa saat itu ia adalah anak di bawah umur yang tidak memiliki kuasa hukum atas kontrak yang ditandatangani orang dewasa di sekitarnya. “Saya satu-satunya anak di ruangan itu, dan saya merasa sangat sendirian,” kenangnya. Ia juga menyoroti bahwa Alexander tercatat sebagai penulis naskah sketsa tersebut, yang menurutnya semakin sulit diterima seiring bertambahnya usia.
Dalam pernyataan terpisah kepada Page Six, Stodden menegaskan bahwa tujuannya bukan sekadar mengungkit masa lalu, melainkan mendorong perubahan. “Alasan saya berbicara sekarang bukan untuk mengulang masa lalu demi masa lalu itu sendiri… ini tentang membantu menciptakan masa depan di mana anak-anak lebih terlindungi dan orang dewasa di posisi kuasa dipegang pada standar yang lebih tinggi.”
Kasus ini mengingatkan pada dinamika industri hiburan global yang kerap melibatkan anak di bawah umur dalam konten dewasa. Di Indonesia, meskipun regulasi perlindungan anak sudah ada, praktik pernikahan dini dan eksploitasi anak di dunia hiburan masih menjadi pekerjaan rumah. Pengalaman Stodden bisa menjadi cermin bagi para pembuat kebijakan dan pelaku industri di Tanah Air untuk memperketat pengawasan terhadap keterlibatan anak dalam produksi konten.
Sejauh ini, Alexander telah mengeluarkan pernyataan publik yang menyatakan penyesalan mendalam. “Melihat kembali sketsa komedi yang saya ikuti bersama Ms. Stodden pada 2012, saya sepenuhnya setuju bahwa itu tidak pantas dan saya benar-benar menyesal. Yang lebih penting, saya sangat menyesal atas segala kerugian atau tekanan yang ditimbulkannya pada Ms. Stodden. Saya menyampaikan permintaan maaf yang tulus,” ujarnya. Namun, Stodden menanti langkah lebih dari sekadar kata-kata. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Alexander menjawab tantangan Stodden untuk terlibat dalam advokasi nyata, atau akankah permintaan maaf publik itu sekadar basa-basi?



