Ryan Fox Juara The Open: Kemenangan Kilat yang Menenggelamkan Kontroversi DeChambeau
Baca dalam 60 detik
- Ryan Fox memastikan gelar juara The Open ke-154 dengan putt cepat 11 kaki hanya 22 detik setelah lawan selesai, menjadi kemenangan pertama sejak 1977 yang ditentukan oleh birdie di hole terakhir.
- Kemenangan Fox kontras dengan kontroversi Bryson DeChambeau yang terkena penalti dua pukulan karena menginjak rough, memicu perdebatan tentang aturan dan etika di kalangan pegolf.
- Gaya permainan cepat Fox dipuji sebagai antitesis dari lambatnya permainan modern, dengan filosofi 'lihat pukulan, pukul' yang ia terapkan sejak awal karier.

Ryan Fox memastikan gelar juara The Open ke-154 dengan cara yang tak terlupakan: ia menyelesaikan putt kemenangan sepanjang 11 kaki hanya dalam hitungan detik setelah Sam Burns menuntaskan putaran terakhirnya. Keputusan cepat itu, yang hanya berselang 22 detik, mengantarkan Fox menjadi juara golf tertua di dunia sekaligus mengakhiri pekan yang diwarnai kontroversi.
Kemenangan Fox di Royal Birkdale, Inggris, menjadi sorotan bukan hanya karena prestasinya sebagai pemain yang terlambat berkembang, tetapi juga karena gaya bermainnya yang efisien. Dalam era di mana banyak pegolf cenderung lamban, Fox justru menunjukkan bahwa kecepatan bisa menjadi senjata. "Lihat pukulan, pukul. Itu selalu filosofi saya," ujar Fox kepada BBC Sport sambil menggenggam Claret Jug.
Namun, minggu itu juga diwarnai insiden yang melibatkan Bryson DeChambeau. Pegolf asal Amerika Serikat itu mendapat penalti dua pukulan karena dianggap sengaja menginjak rough untuk memperbaiki jalur ayunannya pada babak kedua Jumat lalu. Keputusan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pemain. Scottie Scheffler membela DeChambeau dengan menyatakan bahwa ia bukanlah seorang cheater, sementara Rory McIlroy secara terbuka mengaku "tidak suka" dengan sikap DeChambeau.
DeChambeau, yang dikenal sebagai figur kontroversial, bahkan dilaporkan mengancam akan melibatkan Presiden AS Donald Trump dalam pembicaraannya dengan ofisial turnamen. Namun, CEO R&A Mark Darbon membantah adanya intervensi semacam itu. Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi yang mengiringi karier DeChambeau, termasuk kebiasaannya menghindari media selama turnamen berlangsung.
Di tengah kontroversi, kemenangan Fox menjadi angin segar. Ia datang dari keluarga olahraga Selandia Baruโayahnya, Grant Fox, legenda rugby All Blacks, dan kakeknya, Merv Wallace, mantan kapten kriket Selandia Baru. Namun, Fox membangun kariernya sendiri melalui jalan terjal. Ia nyaris menyerah di tahun kedua sebagai profesional, sebelum ayahnya mengingatkan bahwa golf seharusnya menyenangkan. "Saya finis kelima, mempertahankan kartu, dan terus berjalan," kenang Fox.
Kecepatan bermain Fox menjadi topik hangat di kalangan pegolf. Scottie Scheffler, yang pernah bermain bersamanya, mengaku bahwa Fox bermain begitu cepat sehingga ia merasa seperti bermain berdua, bukan bertiga. Fox sendiri berpendapat bahwa semakin sedikit waktu berpikir, semakin sedikit keraguan yang muncul. "Saya hanya melihat pukulan dengan cepat, memilihnya, dan mengeksekusi," jelasnya.
Bagi pegolf Indonesia, gaya Fox bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah kecenderungan permainan lambat yang kerap mengganggu ritme, pendekatan efisien Fox menunjukkan bahwa kecepatan tidak selalu mengorbankan akurasi. Federasi Golf Indonesia (PGI) dapat menjadikan contoh ini untuk mendorong pemain muda agar lebih disiplin dalam manajemen waktu di lapangan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kemenangan Fox akan mengubah budaya permainan lambat di golf profesional? Atau justru kontroversi DeChambeau yang akan terus mendominasi pemberitaan? Yang jelas, Fox telah membuktikan bahwa golf bisa dimenangkan tanpa "faffing about"โtanpa basa-basi yang berlebihan.



