Persaingan Sengit di Nagoya: Empat Pegulat Berebut Gelar, Aonishiki Gagal Pertahankan Rekor
Baca dalam 60 detik
- Empat pegulat memimpin klasemen dengan rekor 10-2 setelah Aonishiki menelan kekalahan kedua di turnamen Nagoya.
- Aonishiki, yang baru saja memastikan promosi kembali ke ozeki, harus mengakui keunggulan Kotoshoho meski cedera jari kaki.
- Persaingan gelar semakin ketat dengan tiga pesaing lain, sementara yokozuna Hoshoryu kembali terpeleset.

Persaingan gelar di Turnamen Sumo Nagoya Grand semakin memanas setelah Aonishiki menelan kekalahan keduanya pada hari Kamis (23/7), menciptakan empat jalur persaingan di puncak klasemen. Hanya sehari setelah memastikan promosi kembali ke pangkat ozeki, pegulat asal Ukraina itu harus mengakui keunggulan sesama sekiwake Kotoshoho.
Kekalahan Aonishiki membuat papan atas semakin ramai. Ozeki Kirishima, Takerufuji (maegashira No. 13), dan Shishi (maegashira No. 14) sama-sama mengantongi rekor 10-2 setelah hari ke-12. Mereka kini berbagi posisi puncak, menjadikan sisa tiga hari turnamen sebagai ajang penentuan siapa yang layak menyandang gelar juara di IG Arena, Nagoya.
Aonishiki, yang baru berusia 22 tahun, tampil impresif sepanjang turnamen meski mengalami cedera jempol kaki kanan di tengah kompetisi. Namun, pada laga krusial Kamis, ia tak mampu menahan dorongan Kotoshoho yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi (rekor 5-7). Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Aonishiki yang sebelumnya sukses mengamankan 10 kemenangan—syarat mutlak untuk promosi otomatis ke ozeki setelah diturunkan pangkat akibat cedera pergelangan kaki kiri pada turnamen Mei lalu.
Di laga lainnya, Kirishima menunjukkan kelasnya dengan menjatuhkan yokozuna Onosato (6-6) pada pertandingan terakhir hari itu. Sementara itu, Takerufuji menambah daftar kemenangannya dengan mengalahkan Takayasu (maegashira No. 7, rekor 9-3). Shishi juga tampil gemilang dengan menjatuhkan Asanoyama (maegashira No. 10, rekor 8-4) melalui teknik lemparan bawah lengan.
Persaingan gelar semakin menarik karena hanya terpaut satu kemenangan antara pemimpin dan pengejar. Kotoeiho (maegashira No. 7, rekor 9-3) tertinggal satu langkah setelah dikalahkan oleh Atamifuji dalam laga ulangan. Di sisi lain, yokozuna Hoshoryu (7-5) kembali menelan kekalahan, kali ini dari Kotozakura—ozeki yang tengah terancam degradasi (kadoban). Kotozakura kini hanya butuh satu kemenangan lagi untuk mencapai delapan kemenangan dan mempertahankan pangkatnya.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, persaingan ini memberikan tontonan menarik tentang dinamika hierarki sumo yang ketat. Promosi dan degradasi yang cepat, seperti yang dialami Aonishiki, menunjukkan betapa tipisnya batas antara sukses dan kegagalan di olahraga tradisional Jepang ini. Dengan tiga hari tersisa, pertanyaan besarnya adalah: akankah Aonishiki bangkit kembali atau justru salah satu dari tiga pesaing lain yang akan merebut gelar?



