Jonathan Cain, Kibordis Journey, Minta Selebritas ‘Bungkam’ Soal Politik: ‘Fokus pada Seni’
Baca dalam 60 detik
- Jonathan Cain, kibordis band Journey, menyerukan agar selebritas berhenti mengumbar pandangan politik di panggung, menyusul kritik Mick Jagger terhadap Bruce Springsteen.
- Cain, yang kini konservatif garis keras, menyebut Springsteen dan Robert De Niro sebagai contoh figur yang seharusnya fokus pada karya, bukan politik.
- Pernyataan ini memicu perdebatan tentang batas antara ekspresi seni dan aktivisme politik di industri hiburan global, termasuk di Indonesia.

Pertarungan opini di antara musisi dunia kembali memanas. Jonathan Cain, keyboardist legendaris grup rock Journey, secara terang-terangan meminta rekan-rekan selebritasnya untuk ‘diam’ soal politik. Dalam wawancara dengan The Complete Disaster Network, pria yang juga suami dari mantan penasihat spiritual Donald Trump, Paula White-Cain, itu menegaskan bahwa panggung musik bukanlah tempat untuk menggurui penonton dengan pandangan politik.
Pernyataan Cain muncul tak lama setelah vokalis Rolling Stones, Sir Mick Jagger, melontarkan kritik serupa kepada Bruce Springsteen yang kerap menyuarakan sentimen anti-Trump dalam konsernya. “Tugasmu adalah membuat mereka bersenang-senang sebaik mungkin,” ujar Jagger kepada The New York Times. Cain pun sependapat, bahkan menambahkan bahwa Springsteen dan aktor Robert De Niro seharusnya “tutup mulut” dan mengurusi seni mereka.
Menariknya, Cain sendiri mengaku telah berubah haluan politik. Ia dulunya pendukung Barack Obama, namun kini menjadi konservatif sejati. “Saya pendukung garis keras konservatif. Dan orang-orang seperti Bruce Springsteen seharusnya diam. Jujur, diamlah, Bruce. Siapa lagi? Robert De Niro. Masa, peduli, kawan? Benar-benar. Lakukan senimu,” tegasnya.
Cain mengklaim bahwa ia tidak pernah membawa politik ke dalam musiknya, meskipun ia merilis lagu patriotik berjudul The Winds Of Freedom: A Salute To America untuk merayakan 250 tahun kemerdekaan AS. Ia menyebut dirinya dan Kid Rock sebagai “sepasang patriot” yang mencintai bendera dan bangsa mereka. Namun, ia menekankan bahwa seniman seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah belah. Ia mencontohkan Paul McCartney yang lagu Hey Jude-nya bisa dinyanyikan oleh penonton dari berbagai latar belakang politik.
“Orang bilang, ‘Kau seorang Kristen dan konservatif,’ dan saya jawab, ‘Lalu kenapa?’ Saya tidak berkhotbah di atas panggung. Saya rasa tidak keren jika selebritas pergi ke sana. Itu pemandangan yang buruk,” ujar Cain.
Tak hanya itu, Cain juga melontarkan kritik pedas terhadap Springsteen, menyebutnya sebagai “orang tua yang menyebalkan dan getir” serta mengkritik lagu Born In The USA yang dianggapnya sebagai “hinaan terhadap negara kita”. Ia menutup pernyataannya dengan nada menantang: “Jika ada yang punya masalah dengan saya, Amerika, dan Yesus, silakan saja.”
Polemik ini membuka kembali diskusi tentang peran selebritas dalam politik. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana artis dan musisi sering terbelah antara menyuarakan pendapat politik atau menjaga netralitas demi karier. Bagi pengamat, pernyataan Cain dan Jagger mencerminkan kekhawatiran bahwa politik dapat mengalienasi sebagian penggemar. Namun, di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa seniman memiliki hak dan tanggung jawab moral untuk bersuara di isu-isu publik.
Ke depan, pertanyaannya adalah: akankah semakin banyak musisi besar yang memilih bungkam, atau justru sebaliknya, politik akan semakin melekat dalam lirik dan panggung mereka? Di tengah polarisasi global, batas antara seni dan aktivisme tampaknya akan terus diuji.



