Geena Davis: Thelma & Louise Buka Mata Saya soal Representasi Perempuan di Layar
Baca dalam 60 detik
- Aktris Geena Davis mengaku film Thelma & Louise (1991) mengubah cara pandangnya terhadap minimnya peran perempuan kuat di industri hiburan.
- Pengalaman menonton tayangan anak-anak bersama putrinya membuat Davis sadar bias gender sudah tertanam sejak dini, mendorongnya mendirikan lembaga riset pada 2004.
- Davis kini optimistis industri mulai berubah, meski masih perlu kerja keras untuk mencapai kesetaraan representasi di layar kaca dan film.

Tiga dekade lalu, Geena Davis membintangi Thelma & Louise, sebuah film yang tidak hanya melambungkan namanya tetapi juga membuka matanya terhadap realitas pahit industri hiburan: perempuan jarang diberi kesempatan menjadi penggerak cerita. Kini, di usia 70 tahun, aktris peraih Oscar itu mengakui bahwa film tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya, mendorongnya untuk aktif memperjuangkan representasi perempuan yang lebih adil di layar lebar dan televisi.
Dalam wawancara terbaru di podcast Armchair Expert with Dax Shepard, Davis menceritakan bagaimana Thelma & Louise membuatnya sadar akan kelangkaan karakter perempuan yang kuat dan mandiri. “Setelah film itu, saya mulai memperhatikan tayangan yang saya tonton bersama anak-anak,” ujarnya. Ia mengaku terkejut saat menyadari bahwa acara prasekolah yang ditonton putrinya, Alizeh, hanya memiliki satu karakter perempuan dari sekian banyak tokoh. “Saya pikir, 12 tahun setelah Thelma & Louise, masalah ini pasti sudah beres. Ternyata tidak,” katanya getir.
Pengalaman itu mendorong Davis mendirikan Geena Davis Institute on Gender in Media pada 2004, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada riset dan advokasi kesetaraan gender di media. Lembaga ini secara rutin merilis studi tentang proporsi karakter perempuan di film dan acara TV, serta memberikan rekomendasi bagi para kreator konten. “Kami melatih anak-anak sejak lahir untuk memiliki bias gender bawah sadar,” tegas Davis. “Ini harus diubah.”
Menurut Davis, Thelma & Louise bukan sekadar film laga, melainkan cermin yang memperlihatkan betapa sedikitnya perempuan yang bisa keluar dari bioskop dengan perasaan diberdayakan oleh karakter di layar. “Sebelumnya, saya pikir itu wajar. Tapi setelah film itu, saya sadar betapa langkanya kesempatan seperti itu,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa peran-peran kuat yang ia mainkan—seperti dalam Thelma & Louise dan A League of Their Own—telah mengubah dirinya secara pribadi. “Saya jadi pemberani di layar jauh sebelum di kehidupan nyata. Tapi karakter-karakter itu menular pada saya.”
Di Indonesia, isu representasi perempuan di media juga masih menjadi pekerjaan rumah. Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) pada 2022 menunjukkan bahwa hanya 30% tokoh utama dalam sinetron dan film Indonesia adalah perempuan, dan sebagian besar masih terjebak dalam stereotip domestik. “Kita perlu lebih banyak cerita yang menampilkan perempuan sebagai pemimpin, ilmuwan, atau pahlawan, bukan hanya sebagai ibu atau kekasih,” kata Nina Armando, pengamat media dari Universitas Indonesia, saat dihubungi LyndHub. “Apa yang dilakukan Davis bisa menjadi inspirasi bagi sineas Indonesia untuk lebih sadar gender.”
Davis, yang memiliki tiga anak di usia 40-an, mengaku bahwa menjadi ibu memberinya perspektif baru. “Saya sangat bersyukur punya anak di usia yang lebih matang. Saya sudah banyak berubah dan punya cara pandang berbeda,” ujarnya kepada The Sunday Times Style Magazine, Juni lalu. Ia pun optimistis terhadap masa depan: “Saya tidak sabar melihat apa yang akan dibawa dekade berikutnya.”
Pertanyaan besarnya kini: akankah industri hiburan global—termasuk Indonesia—benar-benar berubah, atau hanya sekadar mengikuti tren tanpa substansi? Dengan semakin banyaknya suara kritis dan riset seperti yang dilakukan Davis, harapan untuk representasi yang lebih setara bukan lagi sekadar mimpi.



