The Hundred 2026: Wajah Baru, Investasi Raksasa, dan Dominasi IPL
Baca dalam 60 detik
- ECB mengantongi lebih dari £500 juta dari penjualan saham delapan tim The Hundred, dana tersebut akan diinvestasikan kembali untuk kriket Inggris dan Wales.
- Tiga tim berganti nama mengikuti afiliasi dengan klub IPL, sementara beberapa lainnya mengubah warna dan logo, menandai masuknya pengaruh kuat liga India.
- Turnamen edisi 2026 akan berlangsung 21 Juli hingga 16 Agustus, dengan babak final digelar di Lord's dalam format double-header putra dan putri.

Kompetisi kriket The Hundred memasuki edisi keenam pada 2026 dengan transformasi besar-besaran, baik dari sisi kepemilikan, identitas tim, hingga nilai kontrak pemain. Gelombang investasi asing, terutama dari kelompok pemilik waralaba Indian Premier League (IPL), mengubah lanskap turnamen yang digagas oleh England and Wales Cricket Board (ECB) ini.
ECB telah merampungkan penjualan saham di seluruh delapan tim yang berlaga di The Hundred. Total dana yang masuk mencapai lebih dari £500 juta, yang menurut rencana akan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur dan pembinaan kriket di Inggris dan Wales. Langkah ini merupakan bagian dari strategi ECB untuk meningkatkan daya saing domestik di tengah gempuran liga-liga kaya seperti IPL.
Dari delapan tim, empat di antaranya kini dimiliki oleh grup yang juga terafiliasi dengan waralaba IPL. Salah satu nama baru yang menonjol adalah Todd Boehly, pemilik bersama Chelsea FC, yang mengakuisisi 49% saham Trent Rockets. Masuknya investor-investor ini tidak hanya mengubah struktur kepemilikan, tetapi juga memicu rebranding besar-besaran.
Tiga tim secara resmi mengadopsi nama baru yang mencerminkan kemitraan dengan klub IPL. Northern Superchargers bertransformasi menjadi Sunrisers Leeds, terafiliasi dengan Sunrisers Hyderabad. Oval Invincibles berganti nama menjadi MI London, mengambil identitas Mumbai Indians. Sementara Manchester Originals kini dikenal sebagai Manchester Super Giants, mitra dari Lucknow Super Giants. Perubahan ini juga diikuti dengan pembaruan logo dan warna kostum. Southern Brave, meski tidak berganti nama, mengubah skema warna dari hijau-hitam menjadi biru-merah. London Spirit beralih dari biru tua ke ungu-hitam dengan aksen merah-kuning. Hanya Trent Rockets, Welsh Fire, dan Birmingham Phoenix yang mempertahankan identitas visual mereka.
Dampak investasi baru juga terasa pada lelang pemain yang digelar pada Maret lalu. Setiap tim diberi jatah mempertahankan hingga empat pemain sebelum lelang. Harry Brook menjadi pemain termahal dengan nilai £460.000, bertahan di Sunrisers Leeds. Phil Salt bergabung dengan Welsh Fire seharga £450.000, sementara Jofra Archer tetap di Southern Brave dengan nilai £400.000. Rekor pembelian termahal dari lelang dipecahkan oleh James Coles yang diboyong London Spirit seharga £390.000. Joe Root, mantan kapten timnas Inggris, memilih Welsh Fire dengan nilai £240.000.
Di kompetisi putri, Nat Sciver-Brunt dan Lauren Bell menjadi pemain retensi termahal bersama-sama, masing-masing £140.000. Namun, rekor transfer tertinggi dipegang oleh Sophie Devine (Selandia Baru) dan Beth Mooney (Australia) yang masing-masing dilego seharga £210.000. Pemain India, Smriti Mandhana, kembali setelah absen setahun dan bergabung dengan Manchester Super Giants seharga £90.000.
Jadwal turnamen dimulai pada 21 Juli dengan laga pembuka antara MI London melawan Sunrisers Leeds di The Oval, yang menampilkan pertandingan putri lebih dulu. Babak grup berlangsung setiap hari hingga 12 Agustus, dilanjutkan dengan babak eliminasi pada 14 Agustus, dan puncaknya final double-header di Lord's pada 16 Agustus. BBC akan menyiarkan 16 pertandingan secara langsung, dengan komentar audio untuk seluruh 68 laga.
Masuknya modal besar dan pengaruh IPL ke The Hundred menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kompetisi kriket di Inggris. Akankah The Hundred mampu bersaing dengan IPL dalam hal gengsi dan pendapatan? Atau justru akan menjadi feeder league bagi raksasa India? Yang jelas, transformasi ini telah mengubah peta persaingan dan menarik perhatian investor global, termasuk dari Asia. Bagi penggemar kriket di Indonesia, fenomena ini menjadi cerminan bagaimana komersialisasi olahraga dapat mengubah tradisi dan identitas sebuah turnamen.



