AC/DC di Usia 70-an: Ketakutan Terbesar Tersandung di Panggung
Baca dalam 60 detik
- Personel AC/DC, Brian Johnson dan Angus Young, mengaku khawatir cedera akibat tersandung saat manggung di usia senja.
- Johnson mengandalkan alat bantu dengar ADEL setelah pendengarannya terganggu akibat flu saat tur 2016, bukan karena kebisingan panggung.
- Tur Power Up menunjukkan adaptasi panggung yang lebih santai dan interaktif, menandai perubahan sikap di masa karir lanjut.

Dua pilar legenda rock AC/DC, Brian Johnson (78) dan Angus Young (71), mengungkapkan kekhawatiran terbesar mereka saat masih manggung di usia 70-an: risiko tersandung dan cedera serius di atas panggung. Dalam wawancara bersama USA Today, kedua musisi yang telah puluhan tahun menghibur jutaan penggemar ini mengakui bahwa faktor usia kini menjadi perhatian utama dalam setiap penampilan.
Angus Young, gitaris yang dikenal dengan seragam sekolahnya, mengaku selalu waspada terhadap kemungkinan tersandung. "Saya hanya khawatir apakah saya akan tersandung... Itu saja," ujarnya. Brian Johnson menambahkan, "Ya, hal-hal bodoh seperti itu... Di panggung, Anda tidak bisa langsung melakukan apa pun. Anda harus belajar memperhatikan orang lain." Namun, ia juga mencatat sisi positif: "Kami melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya—berinteraksi. Ini lebih menyenangkan karena kami tidak peduli lagi."
Johnson juga membuka tentang perjuangannya melawan gangguan pendengaran. Berbeda dengan asumsi umum, kerusakan pendengarannya bukan disebabkan oleh puluhan tahun bermain musik keras, melainkan akibat flu parah yang dideritanya saat tur 2016. "Kami di Winnipeg atau di suatu tempat, dingin dan basah, dan Anda berkeringat. Tapi dingin sekali, Anda harus cepat-cepat naik pesawat, dan telinga saya seperti mengkristal, sisanya mengerikan," kenangnya. Kini ia mengandalkan ADEL (Ambrose Diaphonic Ear Lens) yang dipasang di monitor in-ear untuk bisa bernyanyi bersama grup.
Perubahan sikap ini mencerminkan kedewasaan dan penerimaan terhadap keterbatasan fisik. Johnson mengakui bahwa di masa muda, ia terlalu serius dan jarang tersenyum di panggung karena merasa harus tampil sesuai ekspektasi. Kini, ia justru menikmati momen dan tidak takut menunjukkan sisi santai. "Ketika Anda masih muda, Anda menganggap diri sendiri sangat serius. Anda berpikir, 'Saya berada di band rock and roll besar.' Saya dulu tidak pernah tersenyum atau apa pun. Karena itulah yang Anda pikir harus dilakukan," katanya.
Bagi penggemar di Indonesia, berita ini mengingatkan bahwa legenda rock pun tidak kebal terhadap proses penuaan. AC/DC, yang pernah manggung di Jakarta pada 2009, tetap menjadi ikon yang menginspirasi generasi baru musisi tanah air. Tur Power Up yang sedang berlangsung di Amerika Utara menjadi bukti bahwa semangat rock tidak pernah padam, meski langkah di panggung harus lebih hati-hati.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana AC/DC dapat terus melanjutkan tur dunia. Dengan usia yang terus bertambah, apakah mereka akan tetap mempertahankan jadwal padat atau mulai mengurangi intensitas pertunjukan? Satu hal yang pasti: selama masih ada energi dan penggemar yang setia, AC/DC akan terus bergoyang—meski dengan langkah yang lebih waspada.



