Mara Wilson Bongkar Alasan Matilda 2 Tak Akan Pernah Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Pemeran Matilda, Mara Wilson, menegaskan sekuel film klasik 1996 itu mustahil dibuat karena bertentangan dengan esensi karakter.
- Menurut Wilson, kekuatan Matilda lahir dari kesulitan hidup; jika ia menjadi ibu yang baik, putrinya tak akan memiliki kekuatan serupa.
- Wilson juga mempertanyakan sosok pasangan yang layak bagi Matilda dewasa, mengingat karakter tersebut digambarkan sangat istimewa.

Mara Wilson, aktris yang memerankan Matilda Wormwood dalam film legendaris 1996, angkat bicara mengenai desakan penggemar yang bertahun-tahun menginginkan sekuel. Dalam sebuah panel di Fanboy Expo Knoxville, Wilson dengan tegas menyatakan bahwa Matilda 2 bukanlah ide yang bisa direalisasikan—setidaknya tidak dengan cara yang menghormati warisan cerita aslinya.
Menurut Wilson, gagasan umum yang beredar di kalangan penggemar—bahwa sekuel bisa mengikuti kisah putri Matilda—justru problematik. Ia menjelaskan bahwa kekuatan telekinetik Matilda lahir dari tekanan dan kesulitan yang ia alami sebagai anak yang diabaikan orang tua dan ditindas kepala sekolah. "Kekuatannya berasal dari kesulitan yang ia hadapi," ujar Wilson. "Inti cerita adalah ia berhasil mengatasi semua itu. Jika Matilda menjadi ibu yang penuh kasih, ia tidak akan membiarkan putrinya mengalami situasi yang memicu kekuatan serupa."
Logika ini menegaskan bahwa kekuatan Matilda bukanlah sekadar bakat bawaan, melainkan respons terhadap trauma. Dalam novel Roald Dahl dan film arahan Danny DeVito, Matilda kecil harus bertahan dari orang tua yang acuh tak acuh—Harry dan Zinnia Wormwood—serta kekejaman Miss Trunchbull. Tanpa elemen penderitaan itu, kekuatan Matilda kehilangan akar naratifnya.
Selain persoalan plot, Wilson juga menyoroti dilema lain: siapakah yang pantas menjadi pasangan Matilda? "Matilda adalah karakter yang luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan siapa yang cukup baik untuknya," katanya. Pertanyaan ini menggarisbawahi betapa ikoniknya figur Matilda—seorang gadis cerdas, pemberani, dan mandiri—sehingga sulit membayangkan sosok pendamping yang sepadan dalam narasi sekuel.
Menariknya, Wilson mengaku dulu sempat merasa risih selalu dikaitkan dengan Matilda. Namun seiring waktu, ia justru mengadopsi nilai-nilai karakter tersebut dalam kehidupan nyata. "Matilda adalah panutan saya. Ia akan berbicara tentang kesehatan mental, buku, dan perpustakaan umum. Saya melakukan semua hal itu sekarang," ungkapnya. Transformasi ini menunjukkan bahwa meski sekuel film tak pernah terwujud, semangat Matilda tetap hidup melalui aktrisnya.
Bagi penikmat film di Indonesia, pernyataan Wilson ini menjadi pengingat bahwa tidak semua cerita klasik perlu diperpanjang. Di tengah maraknya tren reboot dan sekuel di industri hiburan global, keputusan untuk tidak memaksakan Matilda 2 justru menunjukkan penghormatan terhadap integritas cerita asli. Pertanyaan yang tersisa: mampukah Hollywood menahan diri untuk tidak mengeksploitasi nostalgia demi keuntungan komersial?



