Di Balik Layar Matilda: Danny DeVito Jadi Pilar Keluarga Mara Wilson Saat Ibu Berjuang Melawan Kanker
Baca dalam 60 detik
- Mara Wilson mengungkap peran Danny DeVito yang jauh melampaui layar: ia menjadi penopang keluarga Wilson saat ibunda Mara menjalani pengobatan kanker payudara.
- Film Matilda, yang dirilis tiga bulan setelah kematian ibu Mara, didedikasikan DeVito untuk almarhumah—sebuah gestu yang memperkuat ikatan emosional di antara mereka.
- Pengalaman Mara sebagai aktor cilik justru terasa aman dan seperti perkemahan musim panas, kontras dengan banyak kisah kelam yang belakangan terungkap di industri hiburan.

Danny DeVito tidak hanya menyutradarai dan bermain dalam film Matilda (1996), tetapi juga menjadi sandaran bagi keluarga Mara Wilson saat mereka menghadapi cobaan berat di luar set. Aktris yang kini berusia 38 tahun itu mengungkapkan bahwa DeVito, yang saat itu berusia 81 tahun, memberikan dukungan luar biasa ketika ibunda Wilson, Suzie, didiagnosis menderita kanker payudara dan menjalani perawatan intensif.
Dalam sebuah sesi tanya jawab di Fanboy Expo Knoxville, Wilson mengenang masa-masa syuting yang tidak selalu mudah. “Dia benar-benar membantu saya dan keluarga saat kami menghadapi sesuatu yang mengerikan,” ujarnya. Suzie Wilson meninggal dunia pada April 1996, hanya tiga bulan sebelum Matilda tayang di bioskop. Sebagai penghormatan, DeVito mendedikasikan film tersebut untuk almarhumah—sebuah langkah yang menurut Wilson menunjukkan sisi manusiawi sang sutradara di balik kamera.
Wilson, yang memerankan tokoh utama Matilda Wormwood, menyebut DeVito sebagai “paman favorit” meskipun ia menepis rumor bahwa DeVito secara resmi mengadopsinya. “Dia tidak benar-benar mengadopsi saya—itu mitos—tetapi dia merawat keluarga saya dengan sangat baik,” tegasnya. DeVito sendiri memerankan Harry Wormwood, ayah Matilda, sementara mantan istrinya Rhea Perlman berperan sebagai ibu Matilda, Zinnia.
Meskipun ada hari-hari sulit, Wilson menegaskan bahwa pengalaman syuting Matilda terasa seperti “perkemahan musim panas”. Ia masih berteman dengan banyak kru dan pemain hingga kini. Salah satu kenangan manis yang dibagikannya adalah saat ulang tahunnya dirayakan di lokasi syuting dengan kue berbentuk pita rambut merah khas Matilda. “Saya benar-benar menikmati waktu bekerja di sana,” katanya.
Dalam esai yang ditulisnya untuk The Guardian, Wilson mengakui bahwa meskipun banyak kisah horor tentang perlakuan buruk terhadap aktor cilik yang belakangan terungkap, ia pribadi selalu merasa aman selama berakting. “Dari usia lima hingga 13 tahun, saya adalah aktor cilik. Dan meskipun belakangan ini kita mendengar banyak cerita mengerikan tentang hal-hal kasar yang terjadi di balik layar, saya selalu merasa aman saat syuting,” tulisnya. Pengalaman ini menjadi kontras dengan tren industri hiburan global yang mulai membongkar praktik eksploitatif terhadap anak-anak di dunia film.
Bagi penonton Indonesia, kisah Wilson dan DeVito mengingatkan bahwa di balik gemerlap Hollywood, hubungan manusiawi antar kru dan pemain bisa menjadi penyelamat. Industri perfilman Tanah Air pun tengah bergerak menuju perlindungan yang lebih ketat bagi aktor cilik, dengan pembentukan pedoman kerja yang lebih etis. Pertanyaannya, apakah cukup banyak figur seperti Danny DeVito yang bersedia menjadi pelindung di balik layar?



