Warisan Chadwick Boseman Memanas: Saudara Kandung Gugat Janda Atas Pengelolaan Harta
Baca dalam 60 detik
- Kevin dan Derrick Boseman mengajukan petisi ke pengadilan Los Angeles untuk mencopot Taylor Simone Ledward sebagai administrator warisan Chadwick Boseman.
- Mereka menuduh Taylor menguasai aset secara sepihak, termasuk royalti dan hak kekayaan intelektual, tanpa melibatkan orang tua Chadwick yang berhak atas 25 persen warisan.
- Pengadilan diminta menunjuk fidusia profesional untuk mengelola harta warisan yang diperkirakan bernilai jutaan dolar, menyusul tuduhan kurangnya transparansi.

Perseteruan keluarga Chadwick Boseman memasuki babak baru setelah dua saudara kandung sang aktor mengajukan gugatan ke pengadilan Los Angeles, menuntut pencopotan janda almarhum, Taylor Simone Ledward, sebagai pengelola tunggal warisan. Dalam dokumen yang diajukan pekan ini, Kevin dan Derrick Boseman menuding Ledward terus mengendalikan aset secara sepihak tanpa melibatkan orang tua Chadwick, Leroy dan Carolyn Boseman, yang menurut hukum berhak menerima seperempat dari total harta peninggalan.
Chadwick Boseman meninggal pada Agustus 2020 di usia 43 tahun setelah berjuang melawan kanker usus besar selama empat tahun. Aktor yang dikenal luas lewat perannya sebagai Raja T'Challa di film Black Panther itu tidak meninggalkan surat wasiat. Karena itu, berdasarkan hukum California, harta warisannya dibagi secara otomatis: 50 persen untuk pasangan yang sah—dalam hal ini Ledward—dan sisanya untuk orang tua. Namun, hampir enam tahun setelah kepergiannya, pembagian itu belum juga terealisasi.
Dalam petisi yang dilansir People, Kevin dan Derrick mengklaim bahwa Ledward gagal mematuhi perintah pengadilan yang dikeluarkan pada 2022, yang mewajibkannya mendistribusikan aset—termasuk polis asuransi perawatan jangka panjang senilai 40.000 dolar AS kepada Carolyn Boseman. Mereka juga menduga ada aset yang sengaja disembunyikan, seperti rekening bank yang tidak pernah diungkapkan di CNB, royalti dan residual dari SAG-AFTRA sejak 2020, serta hak atas gambar dan kekayaan intelektual yang terus menghasilkan pemasukan.
“Ledward terus menjalankan kendali penuh atas warisan Chadwick, menghalangi keluarga untuk mendapatkan kejelasan atau berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kepentingan orang tua almarhum,” demikian bunyi petisi tersebut. Para saudara juga menuduh Ledward menghalangi peluang bisnis menguntungkan yang bisa dinikmati orang tua Chadwick yang sudah lanjut usia.
Sebagai langkah penyelesaian, Kevin dan Derrick meminta pengadilan menunjuk Jason Rubin, seorang akuntan forensik dan fidusia profesional, sebagai administrator independen. Mereka berharap langkah ini bisa mengakhiri kebuntuan dan memastikan transparansi penuh atas pengelolaan warisan yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan juta dolar.
Kasus ini menyoroti betapa rumitnya pengelolaan warisan artis besar yang meninggal tanpa wasiat, terutama ketika asetnya mencakup royalti film, hak cipta karakter ikonik, dan lisensi gambar. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, meskipun sistem kewarisan berbeda. Pengacara spesialis waris, Rudi Hartono, menilai bahwa tanpa surat wasiat yang jelas, potensi konflik keluarga sangat tinggi, apalagi jika melibatkan aset bernilai besar dan hak kekayaan intelektual. “Di Indonesia, ahli waris sah tetap mendapat bagian, namun pengelolaan aset seperti royalti film sering kali menjadi sumber perdebatan karena tidak diatur secara eksplisit dalam KUH Perdata,” ujarnya.
Bagi penggemar Chadwick Boseman di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik layar gemerlap Hollywood, urusan warisan bisa menjadi medan pertempuran yang tak kalah dramatis. Sementara itu, pengadilan Los Angeles masih menunggu tanggapan resmi dari pihak Ledward. Pertanyaan besarnya: mampukah keluarga ini mencapai rekonsiliasi, atau justru semakin terpecah belah oleh harta yang ditinggalkan Chadwick?



