Kurir Makanan Raih Penghargaan Sastra Tertinggi China: Puisi dari Balik Layar Ekonomi Gig
Baca dalam 60 detik
- Wang Jibing, kurir makanan berusia 56 tahun, memenangkan Lu Xun Literary Prize 2024 untuk kumpulan puisinya 'Low Flight' yang terinspirasi dari kehidupan pekerja gig.
- Karya Wang menjadi simbol kebangkitan sastra kelas pekerja di China, menyoroti tekanan ekonomi dan psikologis yang dihadapi puluhan juta pekerja lepas.
- Fenomena ini membuka diskusi tentang kesenjangan sosial dan martabat pekerja informal, relevan dengan kondisi pekerja gig di Indonesia yang jumlahnya terus meningkat.

Seorang kurir makanan di China, Wang Jibing, berhasil membawa pulang penghargaan sastra paling prestisius di negaranya, Lu Xun Literary Prize, melalui kumpulan puisi yang ditulis di sela-sela waktu pengiriman. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan Wang sebagai penyair, tetapi juga menjadi cermin bagi jutaan pekerja gig yang kerap tersembunyi di balik layar ekonomi digital.
Wang, yang mulai bekerja sebagai kurir pada 2019, meraih perhatian publik setelah puisinya berjudul Man in a Hurry viral pada 2022. Puisi tersebut terinspirasi dari pengalaman frustasinya saat mencari alamat pelanggan yang salah selama berjam-jam. Kini, kumpulan puisi terbarunya, Low Flight, yang diterbitkan pada 2024, sukses memenangkan penghargaan bergengsi yang dinamai dari sastrawan besar China, Lu Xun.
Bagi Wang, penghargaan ini menjadi puncak dari perjalanan hidup yang penuh liku. Ia putus sekolah saat remaja karena kesulitan ekonomi keluarganya di Provinsi Jiangsu. Sebelum menjadi kurir, ia pernah bekerja sebagai buruh bangunan, pemulung, hingga pedagang kaki lima. Meski demikian, kecintaannya pada sastra tidak pernah padam. Selama satu dekade terakhir, ia rutin membagikan puisi dan esainya di media sosial.
Kemenangan Wang menandai fenomena yang lebih besar: bangkitnya sastra kelas pekerja di China. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pekerja kerah biru berhasil menembus dunia literasi. Hu Anyan, mantan kurir paket, misalnya, menerbitkan memoar I Deliver Parcels in Beijing yang menjadi buku terlaris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, esai otobiografi I am Fan Yusu tentang perjuangan pekerja migran juga sempat mengguncang jagat maya China pada 2017.
Menurut laporan media setempat, Wang mengaku tidak berniat berhenti bekerja sebagai kurir meski telah meraih penghargaan. "Secara finansial saya tidak perlu bekerja, tapi saya menyukai suasana pekerjaan ini dan membuat saya tetap bugar," ujarnya kepada Global Times. Ia berencana terus bekerja hingga usia 60 tahun. "Saya ingin hidup yang membumi dan penghargaan ini tidak akan mengubah siapa diri saya," tambahnya.
Fenomena ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana jumlah pekerja gig—terutama kurir dan pengemudi ojek online—terus meningkat. Menurut data Asosiasi Pengemudi Ojek Online (APO), jumlah pengemudi ojek online di Indonesia mencapai lebih dari 2 juta orang. Mereka juga menghadapi tantangan serupa: pendapatan tidak menentu, jam kerja panjang, dan minimnya jaminan sosial. Karya Wang mengingatkan bahwa di balik seragam kurir, ada manusia dengan mimpi dan perjuangan yang layak dihargai.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah fenomena sastra pekerja gig ini akan mendorong perubahan kebijakan perlindungan sosial bagi pekerja informal di China dan negara lain, termasuk Indonesia. Ataukah hanya akan menjadi sekadar cerita inspiratif yang berlalu begitu saja?



