Generasi Z India Ubah Protes Jadi Konten: Humor Sarkastik di Tengah Gas Air Mata
Baca dalam 60 detik
- Ribuan pemuda pengunjuk rasa Partai Kecoa (CJP) di Delhi membagikan video dan meme bernada sarkastik di Instagram, meski aksi berakhir dengan bentrok dan gas air mata.
- Para ahli menilai fenomena ini mencerminkan pergeseran generasi yang memandang politik sebagai bagian dari keseharian digital, bukan aktivitas terpisah.
- Humor yang muncul bukan bentuk pengingkaran, melainkan strategi bertahan dan dokumentasi kolektif untuk merebut narasi atas kekerasan yang dialami.

Puluhan ribu pemuda pendukung Partai Kecoa (Cockroach Janta Party/CJP) memadati jalan menuju parlemen India, Senin lalu, dalam salah satu demonstrasi terbesar melawan pemerintahan Narendra Modi. Namun yang menarik perhatian bukan hanya skala aksi, melainkan bagaimana para demonstran menyulap momen penuh ketegangan itu menjadi konten media sosial yang dibalut humor sarkastik.
Sejak pagi, Chhavi (20, nama samaran) sudah merekam "fit check"—video pamer pakaian—di stasiun metro Delhi. "Saya akan dipukul polisi, kawan," katanya sambil tersenyum ke kamera. Beberapa jam kemudian, prediksinya terbukti: polisi melepaskan gas air mata dan menghalau massa dengan pentungan. Namun alih-alih berhenti merekam, Chhavi dan ribuan peserta lain justru makin giat mengabadikan momen—dari pose kemenangan di samping polisi anti-huru-hara hingga wawancara dengan demonstran yang terluka.
Gelombang unggahan itu membanjiri Instagram begitu akses internet dipulihkan. Seorang perempuan muda dengan tenang mengoles ulang lipstik di depan barisan polisi. Yang lain bercanda "serving face karena pemerintah tak bisa menyajikan keadilan". Sebuah video memadukan outfit reveal dengan adegan kabur dari gas air mata. Tak ketinggalan "ulasan" gas air mata yang dibandingkan dengan menu restoran baru—pedas dan perih.
Bagi pengamat luar, kontras antara humor dan kekerasan mungkin membingungkan. Namun Joyojeet Pal, profesor kajian teknologi dan masyarakat di Universitas Michigan, melihatnya sebagai gejala pergeseran generasi. "Generasi tua memisahkan kehidupan politik dari kehidupan sehari-hari. Generasi muda tumbuh dengan politik yang berbaur dengan meme, foto keluarga, dan perjalanan harian mereka," ujarnya.
Payal Arora, antropolog digital dari Universitas Utrecht, menambahkan bahwa ponsel pintar telah mengubah warga biasa menjadi penulis sejarah politik. "Aksi merekam protes seringkali menjadi tujuan itu sendiri. Pesannya: 'Ini terjadi. Kami ada di sana. Kami akan mengingatnya,'" katanya. Humor, menurut Nishant Shah dari Universitas Hong Kong, bukanlah tanda detasemen, melainkan alat solidaritas dan ketahanan. "Tanpa kegembiraan, tawa, lagu, dan harapan, protes tidak akan berkelanjutan," tegasnya.
Bagi Ishaan (21), yang baru pertama kali ikut protes, humor menjadi cara merebut kendali atas ingatan. Saat gas air mata mendarat di dekatnya, ia justru meraih ponsel. Unggahannya menampilkan asap putih dengan teks: "Polisi Delhi tidak sadar saya dari Jamuna Paar." Lelucon itu merujuk pada kawasan timur Delhi yang terkenal dengan infrastruktur buruk dan bau tak sedap. "Baunya di sana lebih busuk dari gas air mata," katanya sambil tertawa. Ia menegaskan, lelucon itu bukan untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa, melainkan "menolak membiarkan ketakutan mendikte ingatan hari itu."
Manit (18), mahasiswa teknik, awalnya ragu merekam. Namun melihat semua orang melakukannya, ia pun meminta temannya merekam. Hasilnya mirip video olahraga biasa, sampai akhirnya terungkap jarak di aplikasi kebugaran itu tercatat saat ia berlari menghindari pentungan polisi. "Saya lolos dari serangan lathi. Saya lari terus dan malah menyelesaikan latihan saya," ujarnya. "Tidak semua anak muda baca berita. Jika humor bisa membuat percakapan penting lebih mudah diakses, kenapa tidak?"
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat di kalangan aktivis digital. Generasi Z yang akrab dengan media sosial kerap membungkus kritik politik dalam format meme dan konten ringan. Namun apakah pendekatan ini efektif menggerakkan perubahan, atau justru meredam urgensi isu? Para pengamat menilai bahwa selama humor tidak menggantikan aksi nyata, ia bisa menjadi pintu masuk bagi partisipasi politik yang lebih luas—seperti yang ditunjukkan para demonstran muda di Delhi.



