Vingegaard Tersingkir dari Tour de France Usai Kecelakaan, Evenepoel Menang
Baca dalam 60 detik
- Jonas Vingegaard mengalami patah tulang selangka dan harus menjalani operasi setelah terjatuh di tikungan tajam pada etape 15, memaksanya mundur dari Tour de France.
- Kecelakaan beruntun menyebabkan tiga pembalap lain ikut terjatuh dan menimpa penonton, termasuk Isaac del Toro yang mendarat di atas seorang wanita berkruk.
- Remco Evenepoel secara mengejutkan memenangi etape tersebut dan kini menjadi pesaing terdekat Tadej Pogacar di klasemen umum, dengan selisih lima menit.

Jonas Vingegaard, juara Tour de France dua kali, harus mengakhiri partisipasinya dalam balapan tahun ini setelah mengalami patah tulang selangka akibat kecelakaan di etape 15, Minggu (20/7). Insiden yang melibatkan beberapa pembalap dan penonton itu terjadi saat Vingegaard melewati tikungan tajam di luar bundaran, menyebabkan roda depannya tergelincir dan ia jatuh dengan bahu terlebih dahulu.
Kecelakaan tersebut memicu efek domino yang membuat tiga pembalap lain ikut terjatuh dan menimpa penonton yang berdiri di sisi luar tikungan. Salah satunya, Isaac del Toro dari Meksiko yang membela UAE Team Emirates-XRG, mendarat di atas seorang wanita yang duduk dengan kruk. Vingegaard, yang sempat meringis kesakitan saat dievakuasi ke ambulans, akan menjalani operasi dalam beberapa hari ke depan karena tingkat keparahan patah tulang, demikian pernyataan timnya.
Kepergian Vingegaard menjadi pukulan telak bagi persaingan di Tour de France tahun ini. Pembalap asal Denmark itu dianggap sebagai satu-satunya ancaman serius bagi Tadej Pogacar, yang mengenakan jersey kuning. Sebelum kecelakaan, Vingegaard telah menunjukkan performa menjanjikan setelah memenangi Vuelta a Espana tahun lalu dan Giro d'Italia pada Mei. Namun, ia kehilangan waktu signifikan dari Pogacar di etape kelima dan etape 14 yang berat di Vosges.
Di sisi lain, kemenangan mengejutkan diraih Remco Evenepoel. Pembalap Belgia yang dikenal sebagai spesialis time trial ini biasanya kesulitan di tanjakan curam. Namun, pada tanjakan terakhir yang tidak terkategorisasi di etape 15, ia mampu mengimbangi Pogacar dan kemudian melepaskan diri dari del Toro untuk finis pertama. "Saya gemetar karena emosi," ujar Evenepoel. "Ini langkah besar bagi saya karena banyak kritik yang mengatakan saya tidak bisa bertahan di tanjakan curam."
Kemenangan ini membuat Evenepoel naik ke posisi kedua klasemen umum, tertinggal lima menit dari Pogacar. Ia difavoritkan memenangi etape 16 pada Selasa (22/7) yang berupa time trial sepanjang 26,1 km ke Thonon les Bains. Sementara itu, Pogacar tetap kokoh di puncak klasemen dan berpeluang menyamai rekor lima gelar Tour de France bersama Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.
Kecelakaan Vingegaard juga memicu pertanyaan mengenai dampak tes doping tengah malam yang dilakukan Badan Anti-Doping Internasional (ITA). Vingegaard dan Pogacar dibangunkan pada pukul 02.00 dan 05.00 waktu setempat untuk menjalani tes, yang menurut kedua pembalap mengganggu istirahat mereka. ITA membenarkan tes tersebut dan menyatakan bahwa pengujian di luar jam normal kadang diperlukan untuk menjaga integritas balapan.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, insiden ini mengingatkan pada pentingnya keselamatan pembalap dan penonton di ajang sebesar Tour de France. Dengan absennya Vingegaard, persaingan menuju Paris kini semakin terbuka. Mampukah Evenepoel mempertahankan performanya atau justru Pogacar akan semakin tak terkejar?



