Ibrahimovic Kecam Harga Gila Morgan Rogers: Bukan Semua Pemain Layak Rp2 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Zlatan Ibrahimovic mengkritik transfer Morgan Rogers ke Chelsea senilai £117 juta sebagai bukti pasar yang kehilangan akal sehat.
- Eks pemain AC Milan itu menilai kenaikan harga pemain berbasis satu musim bagus mengancam keberlanjutan klub.
- Kesenjangan finansial antara Premier League dan liga lain semakin lebar, berpotensi memicu inflasi transfer global.

Legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic melontarkan kritik pedas terhadap keputusan Chelsea yang membayar £117 juta (sekitar Rp2,3 triliun) untuk mendatangkan Morgan Rogers dari Aston Villa. Dalam perannya sebagai pengamat di Fox Sports, pria yang kini menjabat penasihat khusus AC Milan itu menyebut angka tersebut sebagai bukti bahwa pasar transfer sudah kehilangan kendali.
Rogers, yang genap berusia 24 tahun pada Juli mendatang, mencatatkan 14 gol dan 12 assist dalam 55 pertandingan kompetitif bersama Aston Villa musim lalu. Meski statistiknya tergolong solid, Ibrahimovic menilai torehan itu belum cukup untuk membanderol seorang pemain dengan harga selangit. “Mereka harus segera menghentikan ini. Tidak semua pemain layak dihargai £100 juta. Ini sudah di luar batas,” ujarnya.
Mantan striker Timnas Swedia itu bahkan membandingkan nilai Rogers dengan bintang-bintang muda lainnya. “Saya jadi bertanya, berapa harga Lamine Yamal, Vinicius Junior, atau Michael Olise jika Rogers saja £117 juta?” sindirnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa standar harga pemain bergeser secara tidak wajar, terutama di era di mana satu musim gemilang bisa melambungkan nilai transfer secara drastis.
Kritik Ibrahimovic juga menyoroti kesenjangan finansial yang semakin lebar antara Premier League dan liga-liga lain. Keunggulan pendapatan hak siar membuat klub-klub Inggris mampu mengeluarkan dana besar tanpa banyak pertimbangan. Contoh nyata adalah Inter Milan yang kalah bersaing dari Chelsea dalam perebutan bek sayap Atalanta, Marco Palestra. “Kekuatan beli Premier League benar-benar berbeda,” tambah Ibrahimovic.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Inggris. Tottenham Hotspur, yang nyaris terdegradasi musim lalu, tetap berani menggelontorkan £100 juta untuk merekrut gelandang Italia Sandro Tonali dari Newcastle United. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi harga pemain sudah menjadi tren umum di liga teratas Inggris, tanpa memandang prestasi klub.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen keuangan yang sehat di klub sepak bola. Dengan nilai transfer yang terus meroket, klub-klub Asia termasuk Indonesia harus lebih cermat dalam berinvestasi. Jika tidak, kesenjangan dengan Eropa akan semakin sulit dijembatani, dan risiko kebangkrutan akibat pembelian pemain mahal bisa mengintai.
Pertanyaan besarnya, akankah regulator sepak bola seperti UEFA atau FIFA turun tangan untuk mengendalikan inflasi ini? Ataukah pasar akan terus berjalan liar hingga titik puncak yang tidak terkendali? Yang jelas, peringatan Ibrahimovic patut didengar: tidak semua pemain dengan satu musim bagus layak dihargai £100 juta.



