Creatine: Suplemen Pembentuk Otot yang Kini Berpotensi Melawan Kanker
Baca dalam 60 detik
- Peneliti UCLA menemukan bahwa creatine dapat meningkatkan aktivitas sel dendritik, yang berperan penting dalam mengoordinasi respons imun terhadap tumor.
- Pemberian creatine pada tikus terbukti memperlambat pertumbuhan tumor dan meningkatkan jumlah sel imun yang masuk ke area kanker.
- Temuan ini membuka peluang penggunaan creatine sebagai pendukung imunoterapi dan pengembangan vaksin kanker, meski masih perlu riset lebih lanjut.

Selama ini creatine identik dengan suplemen pembentuk otot bagi para binaragawan. Namun, studi terbaru dari University of California, Los Angeles (UCLA) yang dipublikasikan di jurnal iScience mengungkap potensi baru: creatine dapat memperkuat sistem imun dalam melawan kanker.
Peneliti menemukan bahwa creatine bekerja pada sel dendritik, yaitu sel imun yang bertugas mendeteksi tumor dan mengaktifkan sel T pembunuh. Dalam studi sebelumnya, tim UCLA sudah menunjukkan bahwa creatine bisa meningkatkan aktivitas sel T. Kini, mereka melihat creatine juga mampu 'mengisi ulang energi' sel dendritik, sehingga respons imun menjadi lebih optimal.
“Creatine tidak hanya membantu sel T melawan kanker, tetapi juga memberi energi pada seluruh infrastruktur yang mendukung dan mengarahkan mereka,” ujar Lili Yang, penulis senior studi dan profesor mikrobiologi, imunologi, dan genetika molekuler di UCLA, dalam siaran pers.
Dalam percobaan pada sel tikus, tim peneliti menemukan bahwa sel dendritik yang kekurangan creatine tidak hanya kurang aktif, tetapi juga gagal memicu proliferasi sel T dan produksi molekul sinyal yang diperlukan untuk respons anti-kanker. Sebaliknya, ketika creatine diberikan, kadar ATP—sumber energi seluler—meningkat drastis. Efek ini diibaratkan seperti baterai isi ulang yang memberi sel dendritik kapasitas untuk menyimpan dan menggunakan energi saat dibutuhkan.
Pada uji coba dengan sel manusia di laboratorium, creatine juga meningkatkan aktivasi sel dendritik dan memperkuat kemampuannya mengaktifkan sel T terhadap target kanker. Jenis sel dendritik yang digunakan dalam studi ini merupakan tipe yang biasa dipakai dalam produksi vaksin kanker. Hal ini mengindikasikan bahwa creatine dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas vaksin tersebut.
“Potensi yang kami lihat adalah creatine bisa digunakan secara komplementer: sebagai suplemen untuk memperkuat respons imun pasien yang menjalani imunoterapi, dan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas vaksin berbasis sel dendritik sebelum diberikan,” jelas James Elsten-Brown, penulis studi dan mahasiswa pascasarjana UCLA.
Meski hasil ini menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi baru dilakukan pada tikus dan sel manusia di laboratorium. Mereka menekankan bahwa temuan ini belum bisa diartikan bahwa konsumsi suplemen creatine dapat membantu pengobatan kanker. Siapa pun yang ingin mengonsumsi suplemen baru harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi tentang potensi pengembangan terapi kanker yang lebih terjangkau. Creatine merupakan suplemen yang relatif murah dan mudah diakses. Namun, riset klinis pada manusia masih diperlukan sebelum rekomendasi dapat diberikan. Para ahli imunologi di dalam negeri dapat mulai mengeksplorasi peran creatine dalam mendukung imunoterapi yang saat ini masih terbatas efektivitasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah creatine menjadi 'senjata' baru yang murah dan aman untuk meningkatkan efektivitas imunoterapi? Atau justru efeknya hanya terbatas pada kondisi laboratorium? Studi lanjutan pada manusia akan menjadi penentu.



