USS Abraham Lincoln: 5.000 Pelaut AS Turun di Pattaya, dari Belanja hingga Malam Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Setelah misi panjang 250 hari, hampir 5.000 kru kapal induk AS memanfaatkan waktu darat di Thailand untuk berbelanja dan melepas penat.
- Kedatangan mereka menjadi harapan bagi sektor pariwisata Pattaya yang terpukul akibat konflik Timur Tengah.
- Meski suasana santai, aturan ketat tetap diberlakukan, termasuk larangan terlibat dalam industri seks yang secara teknis ilegal di Thailand.

Setelah menghabiskan rekor 250 hari terkurung di dalam kapal perang baja, hampir 5.000 pelaut dari kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya menginjakkan kaki di Pattaya, Thailand. Alih-alih langsung menyerbu bar dan tempat hiburan malam, sebagian besar dari mereka justru memilih berbelanja di pusat perbelanjaan terdekatโsebuah aktivitas yang tampaknya menjadi kebutuhan tersendiri setelah berbulan-bulan hidup di laut.
Pemandangan para pelaut dengan potongan rambut militer, kumis tebal, dan kaus angkatan laut kontras dengan wisatawan Pattaya yang biasanya mengenakan sandal dan pakaian pantai. Di Hard Rock Hotel, salah satu hotel tepi pantai yang disediakan untuk mereka, para pelaut terlihat berkumpul sambil memegang belanjaan. Bagi mereka, kunjungan ke mal mungkin adalah cara paling sederhana untuk merasakan kembali normalitas yang lama ditinggalkan.
Pattaya sendiri dikenal sebagai kota yang hidup di malam hari, dengan gemerlap neon dan bar-bar yang ramai. Namun, industri pariwisata kota ini tengah terpuruk akibat konflik di Timur Tengah, tempat USS Abraham Lincoln terakhir bertugas. Banyak wisatawan yang biasanya memadati Pattaya memilih untuk tetap di rumah, membuat kedatangan para pelaut Amerika menjadi angin segar bagi perekonomian lokal.
Pada Rabu malam, Walking Street, jalan paling terkenal di Pattaya, terbuka lebar untuk menyambut kru kapal induk tersebut. Sebuah papan besar bercahaya di pintu masuk bertuliskan sambutan hangat bagi mereka. Para pelaut yang telah menabung gaji selama sembilan bulan di laut diharapkan dapat memberikan dorongan ekonomi yang sangat dibutuhkan. Meski demikian, mereka diingatkan bahwa industri seks di Thailand secara teknis ilegal, sehingga aktivitas tersebut di luar batas.
Alkohol tampaknya menjadi pelarian utama. Menjelang tengah malam, beberapa pelaut muda terlihat mabuk berat dan saling menopang. Sebagian lainnya dengan ragu-ragu memasuki bar go-go yang remang-remang, dengan penari pole yang nyaris tanpa busana. Percakapan di tengah musik yang menggelegar menjadi tantangan tersendiri. Seorang awak kapal yang lebih tua mengaku sangat membutuhkan istirahat ini. "Berita bilang kami sudah di laut selama sembilan bulan. Sejujurnya saya sudah kehilangan hitungan waktu," ujarnya. "Rasanya membosankan. Kapal ini besar, tapi tetap terasa seperti perahu, apalagi jika harus berbagi dengan ribuan orang lain."
Di tengah euforia liburan, ada kisah haru dari keluarga yang menunggu di rumah. Shakeira Fairfax, ibu dari awak kapal berusia 25 tahun, Jada Fairfax, mengungkapkan kepada Reuters bahwa ada masa-masa ketika "moral rendah". Ia menggambarkan periode setelah pecahnya permusuhan di Timur Tengah sebagai waktu yang "tidak pasti" dan "menakutkan". "Saya tidak sabar untuk melihat senyumnya. Saya tidak sabar mendengar 'ibu', saya tahu itu hal pertama yang akan dia katakan," tutur Fairfax.
Para kru telah dilatih untuk tidak membicarakan kondisi di atas kapal selama penempatan tempur yang panjang dalam operasi melawan Iran, yang menjadi kritik di AS. Beberapa pelaut enggan berbicara, sementara yang lain mengarahkan pertanyaan wartawan ke tim media mereka. Di Pattaya, terlihat jelas pria-pria mengenakan kaus dengan tulisan SLG (Shore Liaison Group). Tugas mereka adalah menjaga disiplin di darat, mengawasi anggota kru yang sebagian besar masih muda dan belum berpengalaman, serta berkoordinasi dengan otoritas setempat selama kunjungan pelabuhan.
Atase Angkatan Laut AS, Kristopher Robinson, enggan menjawab pertanyaan tentang aktivitas yang dilarang bagi tentara selama di Pattaya. Ia hanya mengatakan, "kami mencoba memberi pelaut sebanyak mungkin kesempatan untuk beristirahat." Personel AS, tambahnya, akan "berperilaku sesuai dengan hukum AS, peraturan angkatan laut AS, dan hukum Thailand."
Keputusan USS Abraham Lincoln untuk singgah di Pattaya dinilai masuk akal. Thailand adalah sekutu lama AS, dan kunjungan pelabuhan oleh Angkatan Laut AS sudah rutin dilakukan dengan protokol yang mapan. Pattaya juga berada di jalur pelayaran dari Teluk menuju California, memberi kru kesempatan untuk melepas penat dan menikmati istirahat dari tuntutan kehidupan di kapal perang. Jika singgah di Thailand ini berhasil, rasa frustrasi akibat misi yang panjang dan berat mungkin akan hilang saat mereka tiba di rumah.
Bagi Indonesia, fenomena ini menyoroti pentingnya diplomasi dan kerja sama militer di kawasan. Thailand, sebagai sekutu AS, kerap menjadi tempat persinggahan kapal perang AS. Indonesia, dengan posisinya yang strategis, juga sering menjadi tuan rumah kunjungan serupa. Hal ini menunjukkan dinamika geopolitik yang kompleks di Asia Tenggara, di mana kehadiran militer asing dapat membawa dampak ekonomi sekaligus memicu perdebatan tentang kedaulatan dan keamanan regional. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia menyeimbangkan peluang ekonomi dari kunjungan militer asing dengan kekhawatiran akan pengaruh asing di kawasan?



