Museum Pedang Jepang Raup Rekor Pengunjung Asing Berkat Pertunjukan Pandai Besi Langsung
Baca dalam 60 detik
- Museum Pedang Bizen Osafune di Okayama mencatat 3.368 wisatawan asing pada 2025, melonjak hampir enam kali lipat dibanding 2014.
- Pameran bertema 'Evangelion dan Pedang Jepang' serta anime populer seperti 'Demon Slayer' menjadi katalis utama minat global terhadap seni pembuatan pedang tradisional.
- Fenomena ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan wisata budaya berbasis kerajinan tangan dengan pengalaman langsung yang autentik.

Museum Pedang Bizen Osafune di Okayama, Jepang barat, mencatat lonjakan drastis kunjungan wisatawan mancanegara setelah menyuguhkan atraksi langsung pembuatan pedang oleh pandai besi master. Pada tahun fiskal 2025, museum ini menerima 3.368 pengunjung asing, hampir enam kali lipat dari 591 orang pada 2014. Sebagian besar datang dari Prancis, sementara jumlah pelancong independen asal Amerika Serikat juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Museum yang baru saja direnovasi pada Maret lalu ini kini dilengkapi layar audio-visual imersif dan penjelasan dalam bahasa Inggris serta Prancis yang diperluas. Pada hari pembukaan kembali, lebih dari 30 wisatawan Prancis hadir untuk menyaksikan langsung Tachi Mumei Ichimonji, pusaka nasional yang dikenal sebagai Yamatorige dan dianggap sebagai pedang Bizen terbaik. Suasana bengkel kerja dipenuhi dentingan palu logam dan percikan api saat para pandai besi menempa bilah pedang di depan pengunjung yang terpukau.
Menurut Minori Takumi, kurator museum, titik balik utama terjadi setelah pameran "Evangelion dan Pedang Jepang" yang digelar pada 2012. Pameran tersebut tidak hanya sukses di Jepang, tetapi juga digelar di Paris dan Madrid. "Pameran itu secara signifikan mengangkat profil Bizen Osafune sebagai salah satu pusat pembuatan pedang terkemuka di Jepang," ujarnya. Serial anime global "Neon Genesis Evangelion" turut membantu menarik audiens baru ke museum. Takumi menambahkan, museum ini adalah satu-satunya di Jepang yang memungkinkan pengunjung menyaksikan langsung proses pembuatan pedang setiap hari.
Survei pengunjung menunjukkan bahwa rekomendasi dari mulut ke mulut di kalangan pelancong asing menjadi pendorong utama popularitas museum. Selain itu, manga dan anime populer yang menampilkan pedang Jepang, seperti "Demon Slayer", semakin memperluas minat terhadap kerajinan ini. Seorang mahasiswa asal Prancis, Sabri Arioli (23), yang baru pertama kali ke Jepang, mengaku terpesona tidak hanya oleh pedang sebagai senjata, tetapi juga sebagai karya seni yang mencerminkan keahlian luar biasa dan keindahan estetika. "Saya sangat tertarik pada bagaimana pedang terkait erat dengan sejarah, budaya samurai, serta nilai mitologis dan simbolis yang lebih luas," katanya.
Fenomena ini memiliki relevansi kuat bagi Indonesia. Dengan kekayaan kerajinan tradisional seperti keris, batik, dan tenun, Indonesia dapat belajar dari strategi museum Jepang dalam mengintegrasikan budaya populer dengan warisan tradisional. Kolaborasi dengan anime atau film populer, serta penyediaan pengalaman langsung (live demonstration), terbukti efektif menarik wisatawan milenial dan Gen Z. Pemerintah daerah di Indonesia, misalnya di Solo atau Yogyakarta, dapat mengadopsi model serupa untuk museum keris atau pusat kerajinan perak, dengan menambahkan elemen interaktif dan narasi yang relevan dengan budaya pop kontemporer.
Ke depan, tantangan bagi museum Bizen Osafune adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian tradisi. Lonjakan pengunjung asing membutuhkan peningkatan kapasitas dan sumber daya manusia, termasuk pemandu multibahasa. Pertanyaan yang muncul: apakah model ini dapat direplikasi di negara lain tanpa kehilangan keaslian budaya? Bagi Indonesia, momentum ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat diplomasi budaya melalui kerajinan tradisional yang dikemas secara modern dan interaktif.



