Karam di Perairan Selayar: Dua Korban Selamat Ditemukan di Pulau Tak Berpenghuni
Baca dalam 60 detik
- Dua penumpang kapal tenggelam di Sulawesi Selatan ditemukan hidup di pulau terpencil setelah berpegangan pada alat apung darurat.
- Lima korban selamat lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, diselamatkan oleh nelayan setelah tiga hari terombang-ambing di laut.
- Perbedaan mencolok antara manifes dan jumlah penumpang aktual kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran di Indonesia.

Dua korban selamat dari kapal penumpang yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, ditemukan pada Minggu (19/7) di sebuah pulau tak berpenghuni, sehari setelah lima korban lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi terapung di laut. Peristiwa ini menambah panjang daftar kecelakaan pelayaran di Indonesia yang kerap dipicu oleh lemahnya penegakan standar keselamatan.
Kapal yang membawa puluhan penumpang itu dilaporkan karam pada Rabu (15/7) saat berlayar di dekat Pulau Selayar, sebuah pulau kecil di selatan Sulawesi. Menurut Muhammad Arif Anwar, pejabat dari Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) setempat, dua korban yang selamat—seorang pria dan seorang wanita—berhasil mencapai daratan dengan bertahan pada alat apung darurat yang mereka rakit sendiri. Mereka mengaku bahwa empat orang lainnya yang semula bersama mereka tidak selamat. "Beberapa dari mereka menjadi lemah dan tidak bisa lagi bertahan di rakit, akhirnya hanyut," ujar Arif kepada AFP. "Semoga kami masih bisa menemukan teman-teman mereka."
Sebelumnya, pada Sabtu (18/7), lima korban lain—termasuk seorang anak perempuan berusia tujuh tahun—berhasil diselamatkan oleh nelayan setempat setelah tiga hari terapung di laut. Para korban, yang kelelahan dan lemah karena kekurangan makanan dan air, bertahan hidup dengan mi instan dan biskuit yang mereka bawa. "Setelah kapal tenggelam, masing-masing menyelamatkan diri menggunakan peralatan atau alat apung darurat yang bisa mereka temukan. Mereka merakit jeriken dan potongan gabus yang diikat dengan tali, lalu naik ke atasnya," jelas Arif.
Hingga saat ini, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap 18 orang yang dilaporkan hilang. Lima kapal besar, satu pesawat intai, dan satu helikopter dikerahkan untuk menyisir perairan sekitar. Peristiwa ini kembali mengungkap praktik umum di Indonesia di mana jumlah penumpang aktual kerap berbeda dengan manifes kapal. Kecelakaan pelayaran menjadi pemandangan rutin, sebagian besar disebabkan oleh standar keselamatan yang longgar dan cuaca buruk. Pada Januari lalu, tiga turis asal Spanyol tewas ketika kapal mereka tenggelam di perairan timur Indonesia, dan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dinyatakan hilang setelah pencarian dihentikan.
Kecelakaan ini menjadi pengingat pahit akan lemahnya pengawasan keselamatan transportasi laut di Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia yang sangat bergantung pada angkutan laut. Meskipun regulasi sudah ada, implementasi di lapangan sering kali abai. Pertanyaannya, berapa lama lagi nyawa harus melayang sebelum perbaikan sistemik dilakukan?



