Savinho, Alternatif Tottenham Setelah Gagal Dapatkan Morgan Rogers
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur mengalihkan target ke Savinho setelah gagal mendatangkan Morgan Rogers yang resmi bergabung ke Chelsea dengan nilai transfer £117 juta.
- Savinho, pemain sayap Manchester City berusia 22 tahun, dinilai memiliki profil kreatif dan dribel langsung yang mirip dengan Rogers, meski produktivitas golnya lebih rendah.
- Kesepakatan masih dalam tahap negosiasi, dengan Tottenham harus menunggu City mencari pengganti sebelum melepas pemain Brasil tersebut.

Jendela transfer musim panas 2026 menjadi saksi betapa Tottenham Hotspur tak lagi sekadar penonton di pasar pemain. Setelah menggelontorkan dana besar untuk Mateus Fernandes dan Sandro Tonali, klub asal London Utara itu sempat dikaitkan dengan Morgan Rogers—kini pemain termahal Inggris setelah resmi berseragam Chelsea. Namun, kegagalan mendapatkan Rogers justru membuka peluang bagi Tottenham untuk merekrut pemain sayap Manchester City, Savinho, yang diyakini bisa menjadi versi mereka sendiri dari sang bintang Aston Villa.
Morgan Rogers, yang dibanderol £117 juta oleh Aston Villa, memilih bergabung dengan Chelsea di tengah persaingan ketat. Tottenham sebenarnya masuk dalam daftar peminat, tetapi menurut sumber internal klub, mereka sejak awal merasa Rogers akan berakhir di Arsenal atau rival sekota. Kepindahan ke Chelsea pun mengejutkan banyak pihak. Dengan nilai transfer tersebut, Rogers kini memecahkan rekor pemain Inggris termahal, mengungguli Elliot Anderson (£116 juta) yang sebelumnya pindah ke Manchester City.
Di sisi lain, Tottenham tidak tinggal diam. Pelatih Roberto De Zerbi dikabarkan masih mengincar tambahan amunisi di lini depan. Nama Eli Junior Kroupi dari Bournemouth disebut-sebut masuk dalam daftar prioritas, tetapi pergerakan paling konkret justru terjadi pada Savinho. Jurnalis transfer kenamaan Fabrizio Romano mengonfirmasi bahwa Tottenham tengah menjalin negosiasi dengan Manchester City. “Savinho sangat menginginkan pindah ke Tottenham. Ia sudah siap bergabung sejak setahun lalu, tetapi saat itu deal batal. Kini, City harus mencari pengganti terlebih dahulu,” tulis Romano.
Perbandingan antara Savinho dan Rogers memang menarik. Keduanya sama-sama produk akademi Manchester City yang gagal menembus tim utama. Rogers harus menjalani jalur panjang via Middlesbrough dan Aston Villa sebelum bersinar. Savinho, yang kini berusia 22 tahun, juga belum pernah menjadi pilihan utama di Etihad. Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam gaya bermain: agresif membawa bola ke depan, jarang mengoper ke samping atau mundur, serta kreatif dalam menciptakan peluang. Perbedaan mencolok terletak pada produktivitas gol—Savinho hanya mencetak tujuh gol dalam 84 penampilan untuk City, sementara Rogers mengemas 14 gol dalam dua musim beruntun di Villa.
Bagi sepak bola Indonesia, pergerakan Tottenham di bursa transfer ini bisa menjadi cerminan bagaimana klub besar Eropa beradaptasi dengan inflasi harga pemain. Liga Inggris kini menjadi panggung transaksi bernilai miliaran rupiah, dan keputusan Tottenham untuk mengincar pemain seperti Savinho—yang lebih terjangkau namun tetap berkualitas—menunjukkan strategi berburu nilai tambah. Jika kesepakatan ini terwujud, Savinho akan menjadi pemain Brasil ketiga di skuad Tottenham setelah Richarlison dan Emerson Royal, memperkuat jejak pemain Amerika Selatan di Premier League.
Meski negosiasi masih berlangsung, tantangan terbesar Tottenham adalah meyakinkan Manchester City untuk melepas pemainnya di tengah musim. City dikabarkan baru akan memberikan lampu hijau jika mereka berhasil mendatangkan pengganti. Dengan tenggat waktu yang semakin mendekat, mampukah Tottenham mengamankan tanda tangan Savinho dan mengulang kesuksesan seperti yang mereka lakukan pada Tonali? Atau akankah mereka kembali gagal seperti kasus Rogers? Jawabannya akan menentukan sejauh mana ambisi Tottenham di musim 2026/27.



