Ribuan Warga Israel Berbaris di Perbatasan Gaza, Desak Pemukiman Kembali Dibangun
Baca dalam 60 detik
- Aksi massa yang digerakkan kelompok pemukim dan sayap kanan menuntut pemerintah Israel mengizinkan pendirian kembali permukiman di Jalur Gaza.
- Demonstrasi ini merupakan tekanan politik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di tengah perang yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.
- Langkah tersebut berpotensi memperumit prospek perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, dengan implikasi bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang pro-Palestina.

Ribuan warga Israel, yang didominasi oleh para pemukim dan aktivis sayap kanan, menggelar aksi berbaris menuju perbatasan Gaza pada Minggu (19/7) lalu. Mereka mendesak pemerintah untuk memulihkan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang porak-poranda akibat perang.
Para peserta berkumpul di dekat perbatasan sebelum bergerak dalam jumlah besar menuju pagar pembatas yang menghadap Gaza utara. Pasukan keamanan Israel dikerahkan untuk mencegah demonstran melangkah lebih jauh ke zona terlarang. Rekaman AFP memperlihatkan para pengunjuk rasa mengibarkan bendera Israel, sementara tentara dan polisi menghalangi akses mereka.
Seorang peserta bernama Daniel Sellem menyatakan bahwa aksi ini bertujuan memberi pesan kepada pemerintah dan dunia bahwa tanah Gaza adalah milik mereka. "Kami dulu tinggal di sana sebelum diusir pada 2005," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pawai ini dimaksudkan untuk menekan pemerintah agar mengizinkan kembali ke Gaza, lebih dari dua dekade setelah Israel mengevakuasi seluruh permukiman berdasarkan rencana penarikan diri 2005.
Peserta lain, Yechiel Greenblum, menyebut aksi ini sebagai "awal dari kampanye" untuk memulihkan komunitas Yahudi di wilayah pesisir tersebut. "Kami mengadakan pawai besar kembali ke Jalur Gaza, kembali ke tempat orang Yahudi hidup selama ratusan, ribuan tahun," katanya, seraya menambahkan bahwa penarikan 2005 bersifat sementara. Ia berargumen tidak ada alasan bagi orang Yahudi untuk tidak kembali menetap di Gaza utara.
Aksi ini merupakan bagian dari tekanan berkelanjutan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang merupakan salah satu koalisi paling kanan dalam sejarah Israel. Sejumlah pawai serupa sebelumnya juga menuntut pendirian kembali permukiman di Gaza, wilayah yang sebagian besar telah hancur akibat perang yang berlangsung lebih dari dua tahun. Meskipun ada gencatan senjata antara Israel dan Hamas, kekerasan harian masih terus terjadi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi serius. Sebagai negara yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, langkah Israel untuk memulihkan permukiman di Gaza akan memperkuat kecaman internasional dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah berulang kali mengecam perluasan permukiman Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan resolusi PBB.
Para analis menilai bahwa aksi ini juga mencerminkan meningkatnya pengaruh kelompok garis keras dalam politik Israel. Jika pemerintah Netanyahu merespons tuntutan tersebut, hal itu bisa memicu eskalasi konflik baru dengan Hamas dan kelompok Palestina lainnya. Di sisi lain, tekanan domestik dari kelompok pemukim bisa memaksa Netanyahu mengambil langkah yang semakin menjauhkan prospek solusi dua negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah Israel akan menuruti tuntutan para pemukim atau justru berusaha menjaga status quo demi stabilitas kawasan. Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib Gaza, tetapi juga memengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah dan posisi Indonesia dalam mendorong perdamaian yang adil bagi Palestina.



