Deschamps Akui Kegagalan di Laga Pamungkas, 14 Tahun Membesut Prancis Berakhir Pahit
Baca dalam 60 detik
- Didier Deschamps menanggung tanggung jawab penuh atas kekalahan 6-4 dari Inggris di perebutan tempat ketiga Piala Dunia, yang menjadi laga terakhirnya sebagai pelatih timnas Prancis.
- Prancis tertinggal 4-0 di babak pertama sebelum bangkit di babak kedua, namun kegagalan di semifinal melawan Spanyol dan laga pamungkas ini menodai catatan gemilang Deschamps.
- Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) memuji dedikasi Deschamps yang mengembalikan kepercayaan publik, namun publik kini menanti arah baru timnas tanpa sosok legendaris tersebut.

Didier Deschamps memikul tanggung jawab penuh atas kekalahan telak 6-4 dari Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia, Sabtu (18/7) waktu setempat. Pertandingan di Miami itu menjadi penutup pahit bagi karier kepelatihannya selama 14 tahun bersama timnas Prancis, yang ditandai dengan keunggulan 4-0 Inggris di babak pertama sebelum Les Bleus bangkit terlambat.
โBabak pertama yang kami mainkan tidak bisa diterima. Ini kesalahan saya karena gagal mempersiapkan tim dengan baik,โ ujar Deschamps dalam konferensi pers usai laga. Ia mengakui bahwa meskipun timnya menunjukkan perlawanan di babak kedua dan nyaris menyamakan kedudukan menjadi 4-4, kegagalan di 45 menit awal menjadi noda yang tak terhapuskan.
Kekalahan ini melengkapi kekecewaan Prancis setelah tersingkir di semifinal oleh Spanyol dengan skor 2-0. Padahal, tim asuhan Deschamps datang ke Amerika Utara dengan ambisi merebut gelar juara dunia ketiga kalinya. โKami memiliki cukup talenta untuk meraih hasil lebih baik. Tapi kami gagal saat melawan Spanyol, dan hari ini kami membayar mahal kesalahan sendiri,โ tambahnya.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) memberikan penghormatan tinggi kepada Deschamps dalam pernyataan resmi. โIa mewujudkan standar tinggi, ketelitian, semangat kolektif, dan kecintaan pada seragam biru. Selama 14 tahun, timnas Prancis kembali mendapatkan kredibilitas, rasa hormat, dan kasih sayang publik,โ tulis FFF. Deschamps tercatat sebagai salah satu dari tiga orang yang sukses memenangkan Piala Dunia sebagai pemain (1998) dan pelatih (2018), setelah Franz Beckenbauer dan Mario Zagallo.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kepergian Deschamps menandai berakhirnya era dominasi Prancis yang kerap menjadi tolok ukur kekuatan tim Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, gaya bermain pragmatis dan solid yang diterapkan Deschamps sering dibandingkan dengan pendekatan pelatih timnas Indonesia. Publik Tanah Air pun dapat belajar dari konsistensi Prancis yang mampu bertahan di papan atas selama lebih dari satu dekade, meskipun harus melalui masa transisi kepelatihan.
Deschamps sendiri mengakui bahwa secara manusiawi, perjalanan delapan minggu di Piala Dunia ini tetap indah. โKami datang dengan ambisi besar, dan ada banyak hal positif. Tapi kekecewaan olahraga ini tetap berat karena kami gagal memberikan kebahagiaan bagi puluhan juta rakyat Prancis,โ ujarnya. Laga pamungkasnya mungkin tidak menampilkan sepak bola terkontrol yang menjadi ciri khasnya, namun warisannya sebagai arsitek kebangkitan Prancis tidak akan pudar.
Pertanyaan kini mengemuka: siapa yang akan menggantikan Deschamps? FFFF belum mengumumkan nama suksesor, namun spekulasi mengarah pada Zinedine Zidane atau pelatih muda seperti Thierry Henry. Apapun keputusannya, bayang-bayang Deschamps akan terus membayangi timnas Prancis dalam beberapa tahun ke depan.



