Iran Gempur Kuwait dan Bahrain, AS Balas dengan Serangan Udara Ketujuh
Baca dalam 60 detik
- Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania, menargetkan infrastruktur pendukung pasukan Amerika.
- Serangan balasan AS selama tujuh malam berturut-turut menghantam situs militer Iran, termasuk gudang senjata bawah tanah dan fasilitas logistik, memicu kekhawatiran perang terbuka.
- Konflik ini mengancam stabilitas pasokan minyak global melalui Selat Hormuz, berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang berdampak pada ekonomi Indonesia.

Iran kembali melancarkan serangan terhadap sekutu Amerika Serikat di Teluk pada Sabtu (18/7) setelah gempuran udara AS selama tujuh malam berturut-turut menghantam infrastruktur militer Iran, menandai eskalasi terbaru sejak gencatan senjata yang rapuh runtuh sepekan lalu. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah menyerang pusat dukungan militer AS di Camp Arifjan dan menghancurkan fasilitas radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, serta menargetkan pangkalan udara di Bahrain dan Yordania.
Kuwait menjadi sasaran paling intens. Sebuah instalasi desalinasi air terkena serangan, sementara Bandara Internasional Kuwait terpaksa menghentikan operasional akibat ancaman rudal dan drone yang berulang. IRGC juga mengklaim menghancurkan setidaknya dua pesawat tempur AS dan tiga pesawat lain dalam serangan dini hari di pangkalan Al Azraq, Yordania, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, militer AS melalui Central Command menyatakan telah menyelesaikan hari ketujuh serangan dengan menyasar situs pengawasan Iran, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim. Serangan AS dilaporkan menewaskan tiga orang dan melukai delapan lainnya di Provinsi Hormozgan, dekat Selat Hormuz, serta merusak dua jembatan dan satu terowongan jalan.
Serangan terhadap infrastruktur sipil semakin menjadi perhatian. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan kekhawatiran mendalam atas eskalasi konflik, khususnya serangan terhadap fasilitas sipil di Iran dan seluruh kawasan. Di Iran selatan, rudal menghantam pembangkit listrik dan pompa desalinasi di Kota Jask, menyebabkan 10.000 orang di 20 desa kehilangan air bersih, menurut kantor berita Tasnim.
Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur Iran dan tidak menutup kemungkinan operasi darat di pesisir atau pulau-pulau Iran. Pejabat AS menyebut serangan di Iran selatan dirancang untuk memberi Trump opsi militer yang lebih luas. Langkah ini berisiko memicu Iran menyerang infrastruktur vital negara-negara Teluk yang rentan, atau sekutunya di Yaman semakin mengganggu pasokan energi global dengan menyerang kapal di Laut Merah.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah membawa implikasi langsung. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi volatilitas harga komoditas serta menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.
Dengan kedua pihak yang terus menguji batas eskalasi, pertanyaan mendasar adalah: sejauh mana konflik ini akan meluas sebelum ada mekanisme internasional yang mampu meredamnya? Atau akankah kawasan Teluk kembali terjerumus ke dalam perang terbuka yang menghancurkan?



