Penalti Bryson DeChambeau di The Open: Keputusan Tepat atau Kontroversi?
Baca dalam 60 detik
- R&A menegaskan hukuman dua pukulan terhadap Bryson DeChambeau murni berdasarkan aturan, tanpa intervensi eksternal.
- Insiden ini memicu spekulasi soal pengunduran diri DeChambeau, namun ia justru mengaku semakin termotivasi.
- Kontroversi ini mengingatkan pentingnya kepatuhan aturan ketat di turnamen golf elite, relevan bagi perkembangan golf Indonesia.

Kepala eksekutif R&A, Mark Darbon, menegaskan bahwa hukuman dua pukulan yang dijatuhkan kepada Bryson DeChambeau pada The Open Championship merupakan keputusan yang jelas berdasarkan peraturan, meskipun memicu kontroversi dan spekulasi soal kemungkinan pengunduran diri sang pemain.
DeChambeau, yang tampil impresif pada putaran kedua dengan skor 66 (empat under par), harus menerima kenyataan pahit setelah dianggap menginjak rumput panjang di dekat bolanya pada hole kelima. Akibatnya, ia kehilangan dua pukulan dan kini tertinggal tiga pukulan dari pemimpin sementara asal Australia, Lucas Herbert, sebelum memasuki putaran ketiga di Royal Birkdale.
Darbon, dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live, menyebut keputusan itu memang tidak mengenakkan tetapi sangat jelas dari sisi aturan. Ia juga mengonfirmasi bahwa tidak ada intervensi dari pihak luar, termasuk Presiden AS Donald Trump yang dikenal dekat dengan DeChambeau. Trump sebelumnya sempat meminta FIFA meninjau skorsing pemain sepak bola AS, Folarin Balogun, namun dalam kasus ini ia tidak menghubungi R&A.
Kontroversi ini sempat menimbulkan keraguan apakah DeChambeau akan melanjutkan turnamen. Namun, pada Jumat malam, ia menyatakan bahwa keputusan tersebut justru akan memicunya untuk tampil lebih baik di akhir pekan. Darbon mengakui adanya emosi yang kuat dari DeChambeau, tetapi menolak mengomentari apakah sang pemain sempat mengancam mundur.
Bagi penggemar golf di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa ketatnya aturan di turnamen major. Federasi Golf Indonesia (PGI) dan para pegolf Tanah Air dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya memahami setiap detail regulasi, terutama dalam situasi tekanan tinggi. Kasus seperti ini juga menunjukkan bahwa keputusan wasit atau juri tidak bisa diganggu gugat, meskipun melibatkan pemain sekelas DeChambeau.
DeChambeau, yang dua kali juara US Open, dikenal sebagai pemain dengan pendekatan ilmiah dan sering kali kontroversial. Namun, kali ini ia harus menerima konsekuensi dari tindakannya. Darbon menambahkan bahwa R&A fokus pada penilaian yang adil dan tidak terpengaruh oleh popularitas pemain.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah penalti ini akan memengaruhi performa DeChambeau secara psikologis atau justru menjadi bahan bakar untuk bangkit. Dengan tiga pukulan tertinggal, peluangnya untuk merebut Claret Jug masih terbuka, tetapi ia harus bermain sempurna di sisa putaran.



