Bandar Narkoba di Pekanbaru Nekat Lukai Polisi, Ditembak di Tempat
Baca dalam 60 detik
- Seorang bandar narkoba di Pekanbaru melukai anggota Ditresnarkoba dengan pisau cutter saat penggerebekan, polisi membalas dengan tembakan.
- Polisi menyita 50 butir ekstasi, pisau, dan dua ponsel dari tersangka; satu pelaku lain masih buron.
- Insiden ini menegaskan risiko tinggi yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba di Riau, yang menjadi jalur peredaran utama.

Seorang bandar narkoba di Pekanbaru nekat melukai anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau dengan senjata tajam saat akan ditangkap, hingga polisi terpaksa melumpuhkannya dengan timah panas. Peristiwa ini terjadi di Jalan Badak Ujung, Kecamatan Tenayan Raya, pada Kamis (16/7) malam, sekitar pukul 22.10 WIB.
Direktur Reserse Narkoba Polda Riau, Kombes Putu Yudha Prawira, mengungkapkan bahwa penangkapan berawal dari laporan masyarakat tentang transaksi narkoba yang kerap dilakukan tersangka berinisial SD. Tim opsnal Subdit II kemudian melakukan undercover buy dan berhasil memancing SD ke lokasi yang telah disepakati bersama seorang rekannya. Namun, saat petugas bergerak mengamankan, kedua pelaku langsung melakukan perlawanan.
"Salah seorang pelaku menyerang personel opsnal menggunakan senjata tajam hingga menyebabkan korban mengalami luka gores di bagian perut dekat pusar," kata Kombes Putu dalam keterangannya, Sabtu (18/7). Personel lain yang berada di lokasi segera memberikan bantuan. Karena pelaku terus membahayakan keselamatan petugas, polisi akhirnya memberikan tindakan tegas dan terukur hingga SD berhasil dilumpuhkan dan diamankan.
Anggota Ditresnarkoba yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, SD yang mengalami luka tembak dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara sebelum akhirnya menjalani pemeriksaan di Mapolda Riau. Polisi kini masih memburu satu pelaku lain yang kabur saat penggerebekan.
Kombes Putu menegaskan bahwa tersangka beserta barang bukti kini diamankan di Ditresnarkoba Polda Riau untuk proses penyidikan lebih lanjut. Insiden ini menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba, terutama di Riau yang dikenal sebagai salah satu jalur peredaran narkoba di Sumatera. Masyarakat diimbau untuk terus memberikan informasi kepada pihak berwajib guna memutus rantai peredaran gelap narkoba.
Ke depan, pengembangan kasus ini diharapkan dapat mengungkap jaringan yang lebih luas. Pertanyaan yang muncul: apakah tindakan tegas seperti ini cukup efektif untuk memberikan efek jera bagi bandar narkoba lainnya?



