Kesenjangan Finansial Serie A: Antara Aturan Unik dan Keterbatasan Anggaran
Baca dalam 60 detik
- Serie A menghasilkan sekitar €2,9 miliar per tahun, jauh di bawah Premier League yang mencapai €7,1–7,9 miliar, memaksa klub Italia berburu pemain murah.
- Aturan baru Serie A mewajibkan pemotongan gaji pemain 25% jika klub terdegradasi, sebuah kebijakan protektif yang tidak dimiliki liga top Eropa lainnya.
- Keterbatasan pendapatan dan pertumbuhan lambat membuat Serie A bergantung pada pinjaman dan transfer gratis, sementara Premier League terus mendominasi belanja pemain.

Liga Italia Serie A menghadapi tantangan finansial yang semakin berat di tengah dominasi Premier League Inggris. Dengan pendapatan tahunan hanya sekitar €2,9 miliar, Serie A tertinggal jauh dari Premier League yang meraup €7,1 hingga €7,9 miliar. Bahkan Bundesliga Jerman dan La Liga Spanyol pun unggul dalam hal pemasukan. Kesenjangan ini memaksa klub-klub Italia untuk mengubah strategi transfer dan pengelolaan keuangan secara fundamental.
Menurut laporan Deloitte Football Money League, 20 klub dengan pendapatan tertinggi di Eropa menghasilkan lebih dari €12 miliar pada musim lalu, dengan pertumbuhan 10–11 persen. Premier League mendominasi daftar tersebut, sementara klub Serie A hanya muncul dengan angka yang lebih kecil. Perbedaan utama berasal dari kontrak televisi: Premier League memperoleh pendapatan siaran jauh lebih besar, baik domestik maupun global. Serie A, meskipun baru menandatangani kesepakatan TV senilai sekitar €900 juta per tahun, masih jauh dari target yang diharapkan.
Kondisi ini berdampak langsung pada daya beli klub Italia. Dalam beberapa bursa transfer terakhir, klub Premier League kerap mengalahkan tawaran Serie A untuk pemain incaran karena mampu memberikan gaji lebih tinggi. Akibatnya, klub Italia lebih banyak mengandalkan transfer gratis, peminjaman, atau rekrutan berbiaya rendah. Filosofi berhemat ini mirip dengan pendekatan di industri lain, seperti yang dijelaskan oleh pakar iGaming Leon Gorski: ketika dana terbatas, setiap euro harus dimaksimalkan.
Keunikan Serie A terletak pada regulasi yang melindungi klub dari beban gaji berlebih saat terdegradasi. Mulai 2 September 2025, kontrak pemain akan secara otomatis memuat klausul pengurangan gaji sebesar 25 persen jika klub turun kasta, kecuali ada kesepakatan lain. Aturan ini tidak dimiliki liga besar lain, namun tetap tidak menyelesaikan masalah struktural. Banyak klub Serie A masih harus menjual pemain bintang hanya untuk menyeimbangkan neraca keuangan.
Pendapatan dari sponsor dan tiket pertandingan juga lebih rendah dibandingkan Inggris dan Jerman. Selain itu, Serie A lambat dalam merenovasi stadion, yang semakin menghambat potensi pemasukan. Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan Serie A menjadi yang paling lambat di antara liga-liga top Eropa, sementara Premier League dan La Liga terus berkembang pesat.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kondisi Serie A memberikan pelajaran tentang pentingnya manajemen keuangan yang prudent. Klub-klub Italia membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah akhir, melainkan pemicu kreativitas dalam merekrut pemain. Namun, tanpa terobosan dalam pendapatan—baik dari TV, sponsor, maupun infrastruktur—Serie A berisiko semakin tertinggal. Pertanyaannya, mampukah liga tertua di Italia ini beradaptasi sebelum jurang finansial semakin melebar?



