Hannah Waddingham Buka Suara soal Rasa Bersih Ibu: Antara Karier dan Anak
Baca dalam 60 detik
- Aktris Ted Lasso, Hannah Waddingham, mengaku terus-menerus dilanda rasa bersalah saat harus meninggalkan putrinya demi pekerjaan.
- Demi mengurangi jarak, ia membawa sang anak syuting ke Praha selama lima bulan dan pernah membawa tas kardus buatan putrinya ke karpet merah.
- Waddingham menolak anggapan kesuksesan hanya milik usia muda, dengan menyebut pencapaiannya di usia 51 sebagai 'overnight success setelah 25 tahun'.

Hannah Waddingham, aktris yang namanya melesat berkat perannya di serial Ted Lasso, mengakui bahwa rasa bersalah sebagai ibu—atau yang kerap disebut mummy guilt—terus menghantuinya setiap kali harus meninggalkan putrinya demi pekerjaan. Di usianya yang ke-51, ia merasa perjuangan menyeimbangkan karier dan peran sebagai orang tua tunggal adalah medan yang tak pernah usai.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Waddingham mengungkapkan bahwa rasa bersalah itu muncul begitu saja, terutama saat ia bersiap menjalani promosi musim terbaru Ted Lasso. “Ya Tuhan, setiap saat. Saya akan pergi untuk melakukan press tour, dan rasa bersalah sebagai ibu langsung turun. Tapi saya harus melawannya,” ujarnya. Tekanan ini pula yang membuatnya enggan kembali ke panggung teater, karena ia merasa putrinya yang berusia 12 tahun, Kitty, belum siap ditinggal dalam waktu lama.
Untuk mengatasi jarak fisik dan emosional, Waddingham kerap melakukan hal-hal simbolis. Salah satu yang paling dikenang adalah saat ia membawa tas kardus buatan Kitty ke karpet merah Screen Actors Guild Awards 2024. “Tas itu ternyata lebih luas daripada tas desainer mahal pada umumnya. Saya sengaja membawanya untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah jauh dari saya,” jelasnya. Langkah ini menjadi bukti bahwa meski sibuk, ia selalu berusaha menghadirkan kehadiran putrinya dalam setiap momen penting.
Waddingham juga tidak ragu membawa Kitty serta dalam proyek-proyek yang memungkinkan. Saat syuting Ride or Die di Praha, ia mendaftarkan putrinya di sekolah internasional setempat. Film yang dibintanginya bersama Octavia Spencer itu bercerita tentang seorang pembunuh bayaran berusia 50-an. “Saya melakukan 75 hingga 80 persen aksi sendiri. Mungkin itu bukan ide bagus, karena saya benar-benar cedera,” katanya sambil tertawa. Namun, ia bangga karena film tersebut menyoroti bahwa perempuan di usia 50-an masih bisa menjadi segalanya.
Keyakinan bahwa usia bukanlah batasan semakin ditegaskan Waddingham. Ia menyebut pencapaiannya saat ini sebagai “kesuksesan instan setelah 25 tahun berjuang”. Menurutnya, banyak perempuan yang baru meraih popularitas di usia matang justru memiliki kedewasaan dan ketenangan batin. “Saya sangat damai dengan diri saya sendiri. Saya lebih dari senang untuk mengatakan bahwa saya berusia 51 tahun dan bangga akan hal itu,” pungkasnya.
Pernyataan Waddingham ini menjadi relevan di tengah diskusi global tentang tekanan yang dialami ibu bekerja, terutama di industri hiburan. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap dialami para ibu yang harus meninggalkan anak demi karier, namun jarang dibicarakan secara terbuka. Kisah Waddingham bisa menjadi pengingat bahwa rasa bersalah adalah hal wajar, tetapi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.



