Kekalahan Beruntun dari All Blacks: Celah Kecil yang Terus Menganga Bagi Irlandia
Baca dalam 60 detik
- Irlandia menelan kekalahan keempat beruntun dari Selandia Baru, kali ini 21-40 di Eden Park, Auckland.
- Dalam enam laga terakhir melawan tim elit (NZ, Prancis, Afrika Selatan), Irlandia selalu kalah dengan selisih dua digit angka.
- Kekalahan ini mempertegas jarak performa Irlandia dengan papan atas menjelang Piala Dunia 2027 di Australia.

Kekalahan 21-40 dari Selandia Baru di Eden Park, Sabtu (12/7), bukan sekadar catatan buruk lain bagi Irlandia. Lebih dari itu, hasil ini mempertegas pola mengkhawatirkan: dalam enam pertandingan terakhir melawan tim-tim elite dunia—Selandia Baru, Prancis, dan Afrika Selatan—Irlandia selalu kalah dengan margin dua digit. Kekalahan terakhir ini sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan All Blacks di kandang mereka menjadi 53 laga beruntun.
Bagi pelatih Andy Farrell, kekalahan ini adalah alarm paling keras sejak ia menukangi Irlandia. Sejak pensiunnya Johnny Sexton pasca Piala Dunia 2023, Irlandia hanya memenangi dua laga besar: melawan Prancis yang bermain dengan 14 orang di Six Nations 2024, dan kemenangan dramatis atas Afrika Selatan di Durban berkat drop goal Ciaran Frawley di detik akhir. Di luar laga-laga itu, catatan Irlandia melawan tim non-elite tetap impresif—termasuk kemenangan telak atas Inggris di Twickenham Maret lalu—namun celah dengan tiga kekuatan utama rugby dunia justru kian melebar.
Laga di Auckland menjadi cermin utuh kelemahan Irlandia musim ini. Pada dua ronde pertama Nations Championship, mereka mampu mengatasi masalah di set-piece dan kurangnya kelancaran serangan saat menghadapi Australia dan Jepang, bahkan meraih kemenangan bonus point. Namun begitu berhadapan dengan Selandia Baru, semua kekurangan itu dihukum tanpa ampun. Kesalahan James Ryan yang kehilangan bola langsung berujung pada skor pertama All Blacks lewat Patrick Tuipulotu. Irlandia sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 14-7 melalui try Jack Conan, namun sebelum turun minum mereka sudah tertinggal 28-7 setelah setidaknya dua pemain belakang Irlandia tampak salah membaca instruksi saat scrum.
Farrell tak menampik masalah fundamental timnya. “Kata yang tepat adalah tidak akurat,” ujarnya seusai laga. “Kontinuitas tidak berjalan karena berbagai alasan: bola jatuh, lemparan ke luar, dan sebagainya. Semangat juang memang terlihat, seperti saat comeback melawan Australia, tetapi melawan Selandia Baru kesalahan sebanyak itu tidak bisa dimaafkan.” Mantan scrum-half Irlandia, Conor Murray, yang kini menjadi komentator, sepakat. “Anda akan dihukum hampir seketika oleh All Blacks atas kesalahan yang mungkin bisa lolos saat melawan tim lain,” katanya di Radio Ulster.
Kekalahan ini juga tak lepas dari badai cedera yang melanda skuad Irlandia. Mereka bertandang ke belahan bumi selatan tanpa kapten utama Caelan Doris yang cedera saat final United Rugby Championship bersama Leinster. Wing James Lowe absen karena kontroversi kepindahannya dari Leinster, sementara Jack Crowley cedera di posisi fly-half yang krusial. Andrew Porter, pilar loose-head prop, sama sekali tidak bermain di level Test sejak November lalu, begitu pula dua pelapis utamanya. Meski demikian, Farrell tetap mencatat prestasi: Triple Crown, nyaris juara Six Nations, dan dua kemenangan di selatan. Ia juga telah memberikan debut internasional kepada delapan pemain musim ini, termasuk empat pemain saat melawan Jepang, sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia 2027 di Australia.
“Kami benar-benar menargetkan laga ini, tetapi kami akan belajar dari kesalahan dan musim depan kami akan tampil lebih baik. Kami tahu posisi kami sekarang dan pekerjaan yang harus dilakukan. Tahun depan akan menjadi tahun besar menjelang Piala Dunia.” — Dan Sheehan, kapten pengganti Irlandia.
Bagi Indonesia, meski rugby bukan olahraga utama, pola yang dialami Irlandia relevan dengan tantangan tim nasional mana pun yang berusaha menembus dominasi elite global. Ketergantungan pada satu atau dua pemain bintang, inkonsistensi saat menghadapi tekanan tinggi, dan pentingnya kedalaman skuad adalah pelajaran universal. Irlandia kini memiliki waktu 15 bulan untuk membenahi diri sebelum Piala Dunia di Australia. Pertanyaannya, mampukah mereka menutup celah yang terus menganga, atau justru akan kembali menuai kekecewaan di panggung terbesar?



