Tuchel Gagal Bawa Inggris ke Final: Bukan Cuma Salah Taktik, Messi Jadi Mimpi Buruk
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel menuai kritik setelah Inggris tersingkir di semifinal Piala Dunia 2026 oleh Argentina, namun kegagalan itu lebih kompleks dari sekadar keputusan taktik.
- Lionel Messi kembali menjadi pembeda dengan dua assist di menit akhir, membuktikan diri sebagai ancaman yang tak terkendali meski berusia 39 tahun.
- Kekalahan ini membuka diskusi tentang budaya sepak bola Inggris yang kurang menguasai penguasaan bola, serta tantangan pelatih baru di turnamen internasional.

Kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik terhadap pelatih Thomas Tuchel, namun analisis mendalam menunjukkan bahwa kegagalan The Three Lions tidak semata-mata akibat kesalahan taktik sang manajer. Di balik keputusan kontroversial yang diambil Tuchel, ada faktor lain yang tak kalah menentukan: kehadiran Lionel Messi yang kembali menunjukkan kelasnya di panggung terbesar.
Tuchel, yang diangkat pada Januari 2025 dengan ambisi membawa pulang trofi kedua Inggris sejak 1966, harus menerima kenyataan pahit setelah timnya unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon. Keputusannya untuk bertahan setelah gol tersebut justru membuka celah bagi Argentina untuk membalikkan keadaan lewat dua gol di menit akhir. Mantan manajer West Ham, Alan Pardew, menilai bahwa ketakutan dan kesalahan organisasi tim telah meracuni pola pikir para pemain.
Namun, Tuchel sendiri melihat masalah lebih mendasar. Ia menyebut bahwa budaya sepak bola Inggris tidak memiliki DNA penguasaan bola seperti Spanyol atau Argentina-Brasil. "Pada momen itu, saya merasa tidak ada struktur di dunia yang bisa membantu kami," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi perbedaan filosofis yang sulit dijembatani dalam waktu singkat, terutama di turnamen internasional yang penuh tekanan.
Argentina sendiri bukan lawan sembarangan. Sebagai juara bertahan, tim asuhan Lionel Scaloni telah menunjukkan mentalitas pantang menyerah sepanjang turnamen. Cape Verde, Mesir, dan Swiss sudah merasakan keganasan mereka di babak sebelumnya. Messi, yang bergerak ke sayap kanan untuk menghindari rapatnya pertahanan Inggris, menjadi katalisator kebangkitan timnya. Dua assistnya untuk Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez menjadi bukti bahwa ia masih menjadi pembeda di usia senja.
Mantan rekan setim Messi di Barcelona, Thierry Henry, menggambarkan transformasi sang megabintang saat terprovokasi. "Jangan bangunkan binatang buas itu," katanya. "Saat timnya membutuhkan, dia meningkatkan permainannya. Dia bisa bermain 120 menit, lalu tetap mencoba melewati semua lawan." Deskripsi ini relevan bagi Indonesia, di mana sepak bola masih mencari identitas dan sering kali bergantung pada individu brilian. Pelajaran dari Messi adalah bahwa pengalaman dan determinasi bisa mengalahkan taktik sekalipun.
Bagi Indonesia, kekalahan Inggris ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan di turnamen internasional membutuhkan lebih dari sekadar pelatih bintang. Butuh waktu, konsistensi, dan adaptasi budaya. Tuchel, yang baru pertama kali menangani tim nasional, setidaknya menyamai pencapaian Southgate di 2018. Namun, seperti Didier Deschamps yang butuh enam tahun untuk juara, atau Aime Jacquet yang lima tahun, proses membangun tim juara tidak bisa instan.
Pertanyaan selanjutnya: akankah FA tetap percaya pada Tuchel untuk Piala Dunia berikutnya, atau justru kembali ke siklus pergantian pelatih yang kerap menghantui timnas besar? Jawabannya akan menentukan apakah Inggris bisa keluar dari bayang-bayang kegagalan, atau terus terperangkap dalam siklus harapan dan kekecewaan.



