Pegolf Inggris Berebut Gelar The Open: Akhir Penantian 34 Tahun?
Baca dalam 60 detik
- Dan Brown memimpin rombongan pegolf Inggris dengan skor 66 pada putaran pertama The Open ke-154, hanya satu pukulan di belakang pemimpin Jackson Suber.
- Inggris belum pernah memenangi The Open sejak 1990, dan terakhir kali juara di tanah sendiri pada 1969; peluang kali ini terbuka lebar.
- Jackson Suber, debutan asal AS yang belum pernah ke Eropa, mengejutkan dengan skor 65, sementara unggulan seperti Rory McIlroy dan Matt Fitzpatrick tertinggal tujuh pukulan.

Penantian panjang Inggris untuk kembali merebut gelar The Open Championship mungkin akan berakhir akhir pekan ini. Dan Brown, pegolf asal Yorkshire, memimpin rombongan tuan rumah dengan skor empat-under 66 pada putaran pertama di Royal Birkdale, hanya tertinggal satu pukulan dari pemimpin kejutan asal Amerika Serikat, Jackson Suber.
Inggris belum pernah merasakan kemenangan di turnamen golf tertua ini sejak Sir Nick Faldo juara di Muirfield pada 1990. Lebih memilukan lagi, terakhir kali pegolf Inggris menang di tanah sendiri adalah Tony Jacklin pada 1969 di Royal Lytham & St Annes. Kini, dengan tujuh pegolf Inggris mencatat skor di bawah par pada hari pertama, harapan itu kembali menyala.
Brown, yang bermain bersama Im Sung-jae dari Korea, memanfaatkan kondisi pagi yang bersahabat di lapangan Merseyside. "Ini baru hari Kamis, tapi semoga saya masih di posisi yang sama pada hari Minggu," ujarnya. Namun, sejarah mencatat bahwa tidak ada pegolf yang memenangi The Open hanya setelah 18 lubang—mereka justru bisa tersingkir jika lengah.
Pahlawan lokal Tommy Fleetwood, yang berasal dari Southport, belajar dari pengalaman pahit. Saat Birkdale menjadi tuan rumah pada 2017, ia memulai dengan skor enam-over. Tahun ini, ia berhasil mencatat satu-under 69, memberi modal solid untuk tiga hari ke depan. "Saya ingin menebus kesalahan," katanya. Enam pegolf Inggris lain—Jordan Smith, Matt Wallace, Laurie Canter, Alex Fitzpatrick, Matthew Southgate, dan Tyrrell Hatton—juga menorehkan skor di bawah par.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Matt Fitzpatrick, salah satu favorit sebelum turnamen, harus puas dengan skor dua-over setelah kesulitan di sore hari saat angin bertiup kencang. Rory McIlroy dari Irlandia Utara, yang bermain bersama Fitzpatrick, juga mencatat 72 setelah menyelesaikan dengan birdie di lubang ke-18. Keduanya kini tertinggal tujuh pukulan dari Suber dan harus tampil impresif pada putaran kedua Jumat pagi untuk lolos cut.
Jackson Suber, 26 tahun, menjadi cerita paling menarik. Ia belum pernah menginjakkan kaki di Eropa sebelum tiba di The Open, dan total 27 lubang yang pernah ia mainkan di lapangan links semuanya terjadi minggu ini di Birkdale. Dengan skor 65, ia memimpin kejutan di depan pegolf-pegolf mapan seperti Bryson DeChambeau dan Francesco Molinari yang berada di posisi tiga-under.
Bagi Indonesia, meski tidak ada wakil di turnamen ini, The Open tetap relevan sebagai barometer perkembangan golf global. Dengan makin banyaknya turnamen internasional yang disiarkan, minat golf di Indonesia terus tumbuh. Kejutan Suber juga mengingatkan bahwa golf adalah olahraga yang terbuka bagi pendatang baru—sebuah pelajaran bagi pegolf muda Indonesia yang bermimpi menembus panggung dunia.
Pertanyaan besarnya: mampukah Brown atau pegolf Inggris lainnya mengakhiri paceklik gelar di hadapan pendukung sendiri? Atau justru Suber akan mempertahankan kejutan dan membawa pulang trofi Claret Jug? Akhir pekan ini akan menjawab.



