Interstellar Kembali Viral: Christopher Nolan Bersyukur Karyanya Abadi
Baca dalam 60 detik
- Film Interstellar (2014) kembali populer di kalangan generasi baru, termasuk sineas yang belum lahir saat film itu dirilis.
- Nolan menilai respons lintas generasi adalah pujian tertinggi, menegaskan filmnya memiliki umur panjang di luar bioskop.
- Sutradara menolak menjadi sombong, menganggap dirinya bagian dari penonton dan bukan figur di atas pedestal.

Christopher Nolan, sutradara di balik Oppenheimer dan Tenet, mengaku sangat terharu melihat film lamanya, Interstellar (2014), kembali mendapat perhatian luas dari penonton generasi baru. Dalam wawancara dengan Hindustan Times, ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk apresiasi tertinggi yang bisa diterima seorang pembuat film.
โSungguh luar biasa ketika sesuatu yang Anda buat bertahun-tahun lalu masih memiliki kehidupan,โ ujar Nolan. Ia menambahkan bahwa banyak sineas muda yang kini mengaku terinspirasi oleh Interstellar, padahal sebagian dari mereka belum lahir saat film tersebut pertama kali tayang. Menurut Nolan, hal itu menunjukkan betapa panjang kariernya telah berjalan.
Fenomena kebangkitan Interstellar bukan tanpa sebab. Film fiksi ilmiah yang dibintangi Matthew McConaughey dan Anne Hathaway itu kerap menjadi bahan diskusi di media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Twitter, di mana adegan-adegan ikoniknya direinterpretasi oleh pengguna muda. Para analis industri menilai bahwa kualitas visual dan tema eksplorasi ruang angkasa yang abadi membuat film ini tetap relevan di tengah maraknya film superhero.
Bagi penonton Indonesia, Interstellar memiliki tempat khusus. Film ini sering diputar ulang di platform streaming seperti Netflix dan menjadi favorit di kalangan komunitas penggemar sains. Banyak warganet Indonesia yang membuat thread analisis tentang fisika lubang hitam atau pesan moral tentang waktu dan cinta. Fenomena ini menunjukkan bahwa film Nolan tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bahan diskusi intelektual.
Dalam wawancara yang sama, Nolan juga ditanya bagaimana ia menjaga diri agar tidak menjadi sombong meski sering dipuja. Ia menjawab bahwa untuk menjalankan tugasnya, ia harus tetap terhubung dengan alasan awal ia terjun ke dunia perfilman. โJika film saya berdampak pada orang lain, itu luar biasa, tetapi itu tidak relevan dengan proses kreatif. Saya adalah perwakilan penonton, dan saya harus memiliki kesamaan dengan semua orang yang menonton film,โ tegasnya.
Pernyataan Nolan ini mengingatkan pada pendekatan uniknya dalam berkarya. Ia dikenal sebagai sutradara yang sangat memperhatikan pengalaman teatrikal, sering menolak tawaran dari platform streaming untuk merilis film langsung di rumah. Baginya, film baru selesai ketika ditonton oleh audiens di bioskop. โAda begitu banyak variabel dalam distribusi, siapa yang menjangkau, dan kapan mereka menjangkau. Itulah mengapa saya sangat menghargai respons penonton,โ tambahnya.
Dengan proyek The Odyssey yang sedang dalam tahap produksi, publik bertanya-tanya apakah film tersebut akan mampu mengulang kesuksesan Interstellar atau bahkan Oppenheimer yang meraup hampir US$ 1 miliar. Namun, bagi Nolan, yang terpenting bukanlah angka, melainkan bagaimana filmnya bisa terus hidup di hati penonton lintas generasi. Akankah The Odyssey menjadi film klasik baru yang akan dikenang 10 tahun lagi?



