Spesies Monyet Baru Ditemukan di Kongo, Hanya Kelima dalam 75 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Ilmuwan mengidentifikasi monyet Colobus congoensis di hutan hujan Kongo, ditandai corak oranye-krem di sekitar mulut.
- Penemuan ini menjadi spesies monyet baru kelima di Afrika dalam 75 tahun, menyoroti kekayaan biodiversitas yang belum terpetakan.
- Para peneliti mendesak status terancam punah karena populasi dan wilayah jelajahnya yang sempit.

Tim peneliti dari Florida Atlantic University bersama mitra lokal mengumumkan penemuan spesies monyet baru di hutan hujan Republik Demokratik Kongo. Primata kecil berbulu hitam dengan corak oranye-krem mencolok di sekitar mulut dan hidung itu dinamai Colobus congoensis, atau dikenal penduduk setempat sebagai "Likweli".
Penemuan ini hanya yang kelima kalinya dalam 75 tahun terakhir spesies monyet baru berhasil diidentifikasi di benua Afrika. Menurut pernyataan resmi yang dirilis Rabu (16/7), ciri paling khas dari primata ini adalah pola wajah yang menyerupai topeng, dengan bercak kulit terang di sekitar rongga mulut. Selain itu, analisis akustik menunjukkan suara auman spesies ini memiliki struktur frekuensi yang unik dibandingkan kerabat dekatnya.
John Hart, ilmuwan konservasi dari Lukuru Wildlife Research Foundation, menegaskan bahwa temuan ini menekankan betapa banyak keanekaragaman hayati di Cekungan Kongo tengah yang belum terdokumentasi. "Penemuan ini mengingatkan kita bahwa masih ada spesies yang luput dari perhatian ilmiah, bahkan di kawasan yang relatif terpencil," ujarnya.
Namun, kegembiraan atas penemuan ini diiringi kekhawatiran. Para peneliti memperkirakan wilayah jelajah monyet Likweli sangat sempit dan populasinya kecil. Oleh karena itu, mereka mengusulkan agar International Union for Conservation of Nature (IUCN) segera mengklasifikasikan spesies ini ke dalam kategori terancam punah. Ancaman utama meliputi perambahan hutan untuk pertanian dan perburuan liar.
Bagi Indonesia, penemuan ini menjadi pengingat akan pentingnya inventarisasi biodiversitas di hutan tropis. Indonesia sendiri memiliki tingkat endemisme primata yang tinggi, seperti orangutan dan bekantan, yang juga menghadapi tekanan habitat. Keberhasilan tim ilmuwan di Kongo menunjukkan bahwa kolaborasi riset internasional dan keterlibatan pengetahuan lokal dapat mengungkap spesies baru yang sebelumnya tidak tercatat. Langkah serupa bisa diterapkan di kawasan terpencil seperti Papua atau Kalimantan.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan perlindungan efektif bagi Colobus congoensis. Apakah status konservasi yang diusulkan akan segera ditetapkan IUCN? Dan akankah pemerintah Kongo mengambil langkah konkret untuk melindungi habitat spesies ini? Jawabannya akan menentukan nasib primata baru ini di alam liar.



