Sonam Wangchuk di Ambang Kematian, Pengadilan India Diminta Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Aktivis pendidikan Sonam Wangchuk kehilangan 9,1 kg dalam 19 hari mogok makan dan kini tak mampu berdiri tanpa bantuan.
- Pengadilan Tinggi Delhi akan memproses gugatan yang mendesak intervensi medis, dengan peringatan bahwa ia bisa meninggal dalam dua hari.
- Mogok makan ini menuntut reformasi pendidikan dan pengunduran diri Menteri Pendidikan menyusul bocornya soal ujian masuk dokter.

Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan asal Ladakh yang dikenal luas di India, berada dalam kondisi kritis setelah menjalani mogok makan tanpa batas waktu selama 19 hari. Berat badannya turun 9,1 kilogram, dan ia hanya bertahan dengan air garam. Para pendamping melaporkan bahwa ia kesakitan dan tidak mampu berdiri tanpa bantuan.
Pada Kamis (18/7), Pengadilan Tinggi Delhi dijadwalkan menangani petisi yang meminta pengadilan untuk segera turun tangan dan memberikan bantuan medis. Petisi tersebut menyatakan bahwa tanpa intervensi, Wangchuk bisa meninggal dalam dua hari. Kondisi ini memicu gelombang desakan dari berbagai kalangan, termasuk politisi oposisi, seniman, dan akademisi, agar ia mengakhiri aksinya.
Wangchuk memulai mogok makan sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan satir daring bernama Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut reformasi pendidikan. Salah satu tuntutan utama adalah pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan setelah ujian masuk kedokteran dibatalkan pada awal Mei akibat kebocoran soal. Pradhan menolak bertanggung jawab dan menyebut pendukung CJP sebagai "tim B dari elemen pengganggu". Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi hingga kini tidak merespons tuntutan para pengunjuk rasa.
Tokoh-tokoh nasional seperti pemimpin partai Samajwadi, Akhilesh Yadav, dan anggota parlemen Kongres Shashi Tharoor secara terbuka memohon Wangchuk untuk mengakhiri mogok makannya. Tharoor menulis di X bahwa "India membutuhkan suaramu untuk perjalanan panjang ke depan" dan menawarkan untuk membawa isu ini ke parlemen. Aktris legendaris Zeenat Aman juga mendesak pemerintah membuka dialog, dengan mengatakan "kita tidak boleh menjadi masyarakat yang duduk diam dan menyaksikan salah satu pemikir terbaiknya dikorbankan".
Namun, Wangchuk tetap pada pendiriannya. Dalam wawancara dengan BBC pada Selasa (16/7), ia menyatakan "harus menyelesaikan apa yang telah dimulai". Sebuah video viral pada Rabu (17/7) memperlihatkan ia berjalan dengan bantuan, namun tak lama kemudian ia terlihat memegangi kakinya dan meringis kesakitan sebelum duduk di kursi. Dokter Satish Lamba, yang memeriksa kesehatannya, mengatakan Wangchuk telah kehilangan lemak dan kini mulai kehilangan massa otot. "Tahap berikutnya adalah jika organ-organnya terpengaruh, itu akan sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Mogok makan ini berlangsung di Jantar Mantar, sebuah observatorium abad ke-18 di New Delhi, yang dimulai oleh CJP pimpinan Abhijeet Dipke. Wangchuk tidak sendirian; beberapa aktivis lain juga ikut mogok, dan salah satunya telah dirawat di rumah sakit karena kesehatannya memburuk. Para pengunjuk rasa telah merencanakan aksi mogok makan satu hari pada Kamis dan akan berbaris menuju parlemen pada 20 Juli saat sidang dimulai.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya akuntabilitas dalam sistem pendidikan dan risiko yang dihadapi aktivis ketika pemerintah tidak merespons tuntutan reformasi. Mogok makan sebagai bentuk protes, meskipun efektif menarik perhatian, juga membawa risiko kematian yang nyata. Pertanyaan yang muncul: akankah tekanan publik dan intervensi pengadilan cukup untuk menyelamatkan nyawa Wangchuk, atau justru memperkuat resistensi pemerintah?



