Investigasi Kecelakaan Air India: Laporan Final Baru Rampung Oktober
Baca dalam 60 detik
- Badan investigasi India, AAIB, memperkirakan draf laporan akhir kecelakaan Air India yang menewaskan 260 orang selesai pada Oktober 2026.
- Proses investigasi memasuki tahap analisis, dengan 49 dari 66 langkah wajib telah ditempuh, termasuk psikologis awak pesawat.
- Spekulasi media soal peran pilot dalam kecelakaan dikhawatirkan menghambat kesaksian saksi, menurut AAIB.

Badan investigasi kecelakaan udara India, Aircraft Accident Investigation Bureau (AAIB), menyatakan bahwa draf laporan final kecelakaan Air India yang menewaskan 260 orang pada Juni 2025 kemungkinan baru akan selesai pada Oktober mendatang. Pernyataan itu disampaikan AAIB dalam dokumen yang diajukan ke Mahkamah Agung India pada Selasa (24/6).
Kecelakaan terjadi pada 12 Juni 2025, ketika Boeing 787 Dreamliner milik Air India yang terbang menuju London jatuh beberapa detik setelah lepas landas dari Bandara Ahmedabad, India barat. Pesawat menabrak bangunan asrama dokter di sebuah perguruan tinggi kedokteran sekitar 6 kilometer dari bandara, menyebabkan ledakan dahsyat. Sebanyak 241 penumpang dan awak pesawat tewas, ditambah 19 orang di darat. Hanya satu penumpang, Viswashkumar Ramesh asal Leicester, yang selamat.
Dalam affidavit yang diajukan sebagai tanggapan atas gugatan ayah Kapten Sumeet Sabharwal—pilot senior yang disebut-sebut terlibat—AAIB mengungkapkan bahwa saat ini mereka berada dalam "fase analisis" dan diperkirakan rampung dalam enam minggu. Laporan awal yang dirilis Juli 2025 menyebutkan bahwa beberapa detik setelah lepas landas, sakelar kontrol bahan bakar tiba-tiba berpindah ke posisi "cut-off", menyebabkan mesin kehilangan daya total. Rekaman suara kokpit merekam salah satu pilot bertanya kepada yang lain mengapa ia melakukan itu, namun tidak ada jawaban jelas.
Kejanggalan dalam laporan awal memicu spekulasi media asing yang mengarahkan tuduhan kepada Kapten Sabharwal. Ayah Sabharwal kemudian menggugat agar investigasi independen dilakukan. AAIB dalam affidavit menyesalkan bahwa "spekulasi media dan narasi yang menyalahkan pilot telah menyebabkan beberapa saksi menjadi enggan dan tidak responsif."
AAIB juga mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan 49 dari 66 langkah investigasi yang diwajibkan, termasuk pemeriksaan lokasi kecelakaan, pengumpulan bukti dari kotak hitam, serta peninjauan rekam medis dan pelatihan kru. Yang menarik, investigasi juga mencakup "otopsi psikologis"—penilaian profil psikologis kru oleh psikolog penerbangan—sebagai bagian dari analisis faktor manusia. Laporan psikolog telah diterima, namun isinya tidak diungkap.
Bagi Indonesia, kecelakaan ini menjadi pengingat pentingnya investigasi kecelakaan udara yang transparan dan bebas dari tekanan publik. Indonesia sendiri memiliki catatan kecelakaan penerbangan yang memerlukan perbaikan sistem keselamatan, seperti kasus Lion Air JT610. Proses investigasi yang berlarut-larut dan spekulasi media yang tidak terkendali dapat menghambat pengungkapan fakta dan pembelajaran bagi industri penerbangan global.
Pertanyaan besar masih menggantung: apakah laporan final nanti akan mengungkap penyebab pasti—apakah kesalahan manusia, kegagalan teknis, atau kombinasi keduanya? Atau justru spekulasi yang sudah terlanjur beredar akan mempengaruhi objektivitas temuan? Jawabannya mungkin baru diketahui setelah Oktober, ketika draf laporan final diserahkan.



