Billy Joel Berhenti Menulis Lagu Pop Demi Kesehatan Mental: 'Saya Tak Ingin Gila'
Baca dalam 60 detik
- Billy Joel menghentikan karier popnya setelah album River of Dreams (1993) karena takut tekanan kreatif merusak mentalnya.
- Musisi 77 tahun itu memilih berhenti total daripada terus berkarya dengan kualitas menurun, seperti yang dialami banyak seniman lain.
- Keputusan ini mengingatkan pada fenomena 'creative burnout' yang juga dialami musisi Indonesia, seperti potensi tekanan pada industri musik lokal.

Billy Joel, legenda musik pop dunia, mengaku memilih pensiun dari dunia penulisan lagu pop lebih dari tiga dekade lalu demi menjaga kewarasan mentalnya. Dalam wawancara dengan Rick Beato di YouTube, pria 77 tahun itu mengatakan bahwa tekanan untuk menyamai kesuksesan masa lalunya bisa membuatnya "gila".
Keputusan itu diambil setelah ia merampungkan album River of Dreams pada 1993. Joel merasa sudah mencapai batas kreativitasnya setelah 12 album, jumlah yang sama dengan The Beatles. "Saya sudah menikah, punya anak. Saya tidak ingin mengurung diri di gua dan mengabdikan diri seperti biarawan hanya untuk menulis lagi," ujarnya.
Joel juga mengaku tidak ingin menjadi salah satu artis yang perlahan meredup. "Mungkin mereka tidak sebagus dulu atau tidak semotivasi dulu, tapi akhirnya menurun. Saya tidak ingin seperti itu," katanya. Ia menegaskan bahwa berkata tidak pada kesempatan kadang lebih sulit daripada terus berkarya.
Meski berhenti dari pop, Joel tidak sepenuhnya meninggalkan musik. Pada 2001 ia merilis album klasik Fantasies and Delusions, dan pada 2024 meluncurkan single Turn the Lights Back On. "Saya tidak ingin terus memukul kuda mati dan dimainkan hanya karena saya Billy Joel," jelasnya.
Fenomena yang dialami Joel bukan hal asing di industri musik global, termasuk Indonesia. Banyak musisi Tanah Air yang mengalami tekanan serupa, seperti keharusan merilis lagu hits setiap tahun atau mempertahankan popularitas di tengah persaingan ketat. Beberapa memilih vakum atau beralih genre, seperti yang dilakukan oleh musisi-musisi senior yang kini lebih fokus pada karya religi atau indie.
Menurut psikolog musik, tekanan untuk terus berkarya dengan standar tinggi dapat memicu kecemasan dan depresi. Joel sendiri mengakui bahwa ia sampai membenci diri sendiri ketika tidak mampu mencapai level yang pernah diraih. Ia bahkan memperingatkan rekan-rekannya: "Kamu harus belajar cara berhenti menulis lagu, karena itu akan membuatmu gila."
Keputusan Joel menjadi pengingat bahwa kreativitas bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Di era di mana musisi dituntut untuk terus produktif, memilih berhenti di puncak justru bisa menjadi langkah paling bijak. Pertanyaannya, apakah industri musik Indonesia siap memberikan ruang bagi seniman untuk beristirahat tanpa stigma?



