Bima Arya: Ego Sektoral dan Personal Jadi Penghambat Keberlanjutan Pembangunan Daerah
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya menilai keberlanjutan kepemimpinan merupakan fondasi utama kemajuan daerah, bukan sekadar estafet jabatan.
- Ia menyoroti kebiasaan kepala daerah mengabaikan program pendahulu demi menonjolkan pencapaian sendiri, yang justru menghambat pembangunan.
- Transisi kepemimpinan di Singapura dan China disebut sebagai contoh sukses menjaga kesinambungan program tanpa terputus oleh ego sektoral.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa keberlanjutan dalam kepemimpinan bukan sekadar jargon, melainkan syarat mutlak bagi pembangunan daerah yang efektif. Dalam sambutannya di acara Welcome Dinner Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Lemhannas RI, Selasa (14/7), ia mengkritik kecenderungan para kepala daerah yang lebih sibuk meninggalkan jejak personal ketimbang melanjutkan program yang sudah berjalan.
Menurut Bima, praktik pergantian pemimpin yang kerap memulai dari nol—mengabaikan capaian pendahulu—menjadi salah satu penyebab lambatnya kemajuan di banyak daerah. "Kunci sukses Singapura, China, dan negara maju lainnya adalah sustainability, keberlanjutan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi. Ia mencontohkan bagaimana transisi kepemimpinan di Singapura justru memperkokoh ideologi dan program pembangunan, bukan memutuskannya.
Bima menggarisbawahi bahwa ego personal dan ego sektoral harus ditinggalkan demi kepentingan publik yang lebih besar. Ia menilai, terlalu sering kepala daerah terjerat pada keinginan untuk menonjolkan program sendiri, sehingga program strategis yang sudah dirintis pendahulu terhenti begitu saja. "Enggak ada itu ego sektoral, ego programatik, dan lain-lain di Singapura. Mereka fokus pada keberlanjutan," tegasnya.
Pernyataan ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana pergantian kepala daerah seringkali diikuti oleh perubahan arah kebijakan yang drastis. Mulai dari perubahan visi-misi hingga penggantian pejabat eselon, semua dilakukan tanpa mempertimbangkan kontinuitas. Akibatnya, anggaran dan sumber daya habis untuk memulai program baru, sementara program lama yang potensial terbengkalai. Bima mengingatkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen lintas periode kepemimpinan.
Selain aspek keberlanjutan, Bima juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang inspiratif. Seorang pemimpin, kata dia, tidak boleh hanya mengejar eksistensi, prestasi, atau pengakuan semata. Ia harus mampu menjadi ruang kontemplasi bagi orang lain, memberi inspirasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan. "Pemimpin yang baik adalah yang mampu menghadirkan ruang kontemplasi bagi anak buahnya, bukan sekadar pusat perhatian," ujarnya.
KPPD Angkatan III ini diharapkan menjadi momentum bagi para peserta untuk merefleksikan gaya kepemimpinan mereka. Dengan pembekalan dari Lemhannas RI dan pembelajaran langsung dari praktik kepemimpinan di Singapura, Bima berharap para kepala daerah dapat membawa perubahan yang lebih bermakna. Pertanyaannya, mampukah mereka melepaskan ego sektoral demi kepentingan jangka panjang daerah?



